Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perjalanan Usaha Yenni Kartika Wulan, Tak Bernafsu Tambah Pelanggan, tapi Beri Kepuasan

Nasya Rahaya • Sabtu, 17 Januari 2026 | 15:51 WIB
KULINER SEHAT: Hadirkan jus dan katering kuliner sehat di Samarinda, Wulan memilih memperkuat kualitas produk dan kepercayaan pelanggan sebagai strategi bertahan sejak 2017.
KULINER SEHAT: Hadirkan jus dan katering kuliner sehat di Samarinda, Wulan memilih memperkuat kualitas produk dan kepercayaan pelanggan sebagai strategi bertahan sejak 2017.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Banyak strategi ditempuh pengusaha untuk mempertahankan bisnis. Seperti dilakukan Yenni Kartika Wulan. Ketika banyak pelaku usaha berlomba mengejar pertumbuhan cepat dan profit tinggi, dia justru memilih membangun kepercayaan serta hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Wulan memilih fokus meningkatkan kualitas produk dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Strategi inilah yang menjadi pondasi usahanya sehingga bisa bertahan sejak 2017 hingga kini. Ibarat sebuah pohon, ia tak sibuk memperbanyak buah, tetapi menguatkan akar agar usaha tetap kukuh.

Usaha ini bermula ketika Wulan hijrah ke Samarinda pada 2016 mengikuti sang suami. Sebagai pendatang baru, ia kesulitan menemukan jus buah sesuai seleranya.

“Aku suka sekali jus buah. Sejak kuliah di Jogja aku terbiasa beli jus dengan sistem mix buah sesuai keinginan. Tapi waktu pindah ke Samarinda, aku enggak dapat itu. Kalau jus mangga ya mangga saja, jeruk ya jeruk saja,” ungkap Wulan.

Dari situ, ia melihat peluang. Wulan berniat menghadirkan jus buah dengan konsep racik seperti yang ia temui di Jawa. Di sisi lain, ia juga ingin tetap produktif meski berstatus sebagai ibu rumah tangga.

“Waktu itu aku mikir, aku ibu rumah tangga, kerjaan apa ya yang bisa aku handle dari rumah, sambil ngurus anak tapi tetap produktif. Aku enggak bisa buka coffee shop, tapi aku bisa nge-mix jus,” katanya.

Menjelang akhir 2017, niat itu mulai diwujudkan. Bermodal Rp 200 ribu, peralatan seadanya di rumah, serta kepercayaan diri, Wulan mulai membuka pesanan jus secara daring. “Dari modal itu. Aku beli buah, beli botol, pakai blender yang ada di rumah. Pertama kali jualan lewat Facebook dengan sistem open order. Enggak nyangka ternyata antusiasnya lumayan,” ceritanya.

Perlahan, usaha tersebut menunjukkan prospek. Wulan konsisten menjalankan usahanya dengan ritme yang disiplin. Setiap hari ia mulai berproduksi sejak pagi dan hanya membuka penjualan selama enam jam, pukul 08.00 hingga 14.00 Wita.

“Aku memang dari awal membatasi jam operasional. Jam dua siang sudah tutup. Biar karyawan bisa pulang, ibadah dan punya waktu dengan keluarga,” ujarnya.

Meski tanpa outlet dan sepenuhnya mengandalkan penjualan daring, omzet usahanya terbilang stabil. Saat ini, Wulan mengantongi omzet sekitar Rp 4–5 juta per hari, yang berasal dari penjualan jus dan layanan katering. Untuk itu, ia juga sudah dapat mempekerjakan 8 orang karyawan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga.

Pada masa pandemi Covid-19, bisnisnya bahkan sempat mencapai puncak. “Waktu Covid itu justru golden era. Orang cari jus, cari minuman sehat, ojol lagi ramai. Pernah omset sebulan tembus Rp200 juta. Dari situ juga pernah masuk top 10 resto dengan income terbesar di GrabFood. Waktu itu beberapa kali dapat reward dan achievement dari Grab karena orderannya mencapai target mereka,” katanya.

Pada 2019, Wulan mulai memperluas lini usahanya dengan menjual salad, yang kemudian berkembang menjadi katering rendah kalori dalam dua tahun terakhir. Meski produknya kerap disebut sebagai makanan sehat, Wulan enggan jumawa.

“Aku enggak pernah mengklaim ini makanan diet atau penurun berat badan. Fokusku cuma satu, mengubah prosesnya. Makanannya tetap nasi uduk, tetap ayam, tapi santannya aku ganti fiber, sambalnya enggak ditumis tapi direbus atau dikukus,” jelasnya.

Ia juga selektif dalam memilih bahan. “Untuk ayam aku fokus pakai dada karena proteinnya tinggi dan lemaknya rendah. Nasinya pakai nasi merah atau nasi cokelat supaya kenyangnya lebih lama. Isinya aku sesuaikan standar isi piringku, jadi lengkap ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah,” tambahnya.

Karena itu, pelanggannya tersegmentasi, orang-orang yang suka makan-makanan berkalori atau yang sedang diet. Kunci lain yang membuat usahanya bertahan adalah inovasi menu. Untuk catering, Wulan rutin mengganti menu setiap hari agar pelanggan tidak bosan. “Kalau hari ini enggak order, besok bisa jadi menunya sudah enggak ada. Itu bikin orang penasaran dan balik lagi,” ujarnya.

Hingga kini, Wulan mengaku memiliki ratusan pelanggan loyal. Ia tidak terlalu agresif mencari pelanggan baru. “Fokusku bukan ngejar customer baru sebanyak-banyaknya, tapi menjaga yang lama. Mereka lebih loyal dan tanpa diminta sering merekomendasikan ke teman-temannya,” katanya.

Ketua ditanya tentang proyeksi ke depan, jawabannya masih sama. “Ke depan aku pengin fokus memperkuat yang sudah ada dulu. Aku enggak kepikiran buka outlet atau ekspansi besar, yang penting kualitas tetap terjaga dan customer lama tetap puas,” ujarnya.

Dia mengakui untuk bertahan di bisnis kuliner sehat, masih akan terus tumbuh, dia mengakui lifestyle hidup sehat kian hari akan terus banyak pengikutnya.

Di saat yang sama, ia juga terus meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi nutrisionis, agar usaha yang dijalankannya tak hanya bertumpu pada tren, tetapi juga pada pemahaman yang utuh soal gizi dan pola hidup.

“Sekarang aku lagi berproses ambil pelatihan dan sertifikasi nutrisionis. Harapannya ke depan enggak cuma jual produk, tapi juga bisa lebih paham secara ilmunya,” tutupnya. Bagi Wulan, bertumbuh pelan namun konsisten adalah cara paling jujur untuk menjaga usaha tetap hidup dan relevan dalam jangka panjang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Yenni Kartika Wulan #pelanggan #kuliner #perjalanan usaha #kepercayaan #makanan sehat