KALTIMPOST.ID, Harga perak murni PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mencuri perhatian pasar.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, harga perak Antam justru menunjukkan lonjakan signifikan di awal pekan.
Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia, harga perak Antam pada Senin, 19 Januari 2026, naik Rp 1.700 menjadi Rp 57.900 per gram.
Kenaikan ini cukup kontras dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 56.200 per gram.
Tak hanya per gram, harga perak batangan juga mengalami penyesuaian signifikan:
- Perak murni 250 gram dipatok Rp 14.825.000
(termasuk PPN 11%: Rp 16.455.750) - Perak murni 500 gram dipatok Rp 28.850.000
(termasuk PPN 11%: Rp 32.023.500)
Sementara itu, produk Perak Heritage juga mengalami kenaikan harga, baik untuk ukuran 31,1 gram maupun 186,6 gram.
Harga Global Melemah, Tapi Kenapa Perak Antam Justru Menguat?
Di pasar internasional, pergerakan perak justru menunjukkan koreksi. Mengacu pada data Kitco, harga perak spot turun sekitar 0,24% ke level US$ 89,83 per troy ons.
Tekanan datang dari menguatnya dolar Amerika Serikat serta sikap Federal Reserve yang diperkirakan masih menahan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Kondisi ini biasanya menjadi hambatan bagi harga logam mulia.
Namun, harga perak Antam tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan spot global. Faktor permintaan domestik, ketersediaan stok fisik, serta biaya produksi dan pajak turut memengaruhi harga jual di dalam negeri.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Senin 19 Januari 2026: Raja Emas Indonesia dan Lakuemas Stagnan
Emas Antam Ikut Naik, Sinyal Minat ke Aset Lindung Nilai
Tak hanya perak, harga emas Antam juga mencatatkan kenaikan. Harga emas Antam naik Rp 40.000 menjadi Rp 2,703 juta per gram, sementara harga buyback berada di level Rp 2,545 juta per gram.
Kenaikan ini memperlihatkan bahwa minat investor terhadap aset lindung nilai masih cukup kuat, meskipun pasar global dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ketidakpastian The Fed Jadi Pemicu Utama Pergerakan Logam Mulia
Penguatan dolar AS dan sikap hati-hati The Fed menjadi sorotan utama pelaku pasar. Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong penurunan suku bunga, bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan ketatnya dalam waktu dekat.
Menurut analis, kondisi ini menciptakan tarik-menarik di pasar logam mulia. Di satu sisi, dolar yang kuat menekan harga global.
Di sisi lain, risiko geopolitik dan keterbatasan pasokan fisik menjaga minat terhadap perak dan emas.
Menariknya, analis dari Citi memproyeksikan harga perak berpotensi menembus US$ 100 per troy ons pada kuartal pertama 2026.
Proyeksi ini didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, kelangkaan pasokan fisik, serta kekhawatiran atas independensi bank sentral AS.
Jika proyeksi tersebut terwujud, harga perak domestik berpotensi kembali mengalami penyesuaian, terutama pada produk fisik seperti yang dijual Antam. ***
Editor : Dwi Puspitarini