KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketidakpastian ekonomi global belum menunjukkan tanda mereda. Bank Indonesia menilai kondisi tersebut masih akan membayangi kinerja perekonomian dunia, termasuk daerah, seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan terbatasnya ruang penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat.
Dalam Temu Media, Rabu (21/1) di Samarinda, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menjelaskan, pertumbuhan ekonomi global pada 2025 diprakirakan relatif stagnan.
Kondisi tersebut dipengaruhi perlambatan ekonomi Amerika Serikat, meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, serta masih kuatnya preferensi investor terhadap aset aman.
Perlambatan ekonomi AS, lanjut Budi, dipicu berlanjutnya dampak kebijakan tarif dagang serta sempat terhentinya aktivitas pemerintahan yang berdampak pada pelemahan pasar tenaga kerja.
Dari sisi kebijakan moneter, meski The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, arah penurunan ke depan dinilai akan lebih terbatas.
“Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 diprakirakan stagnan seiring ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi dan kebijakan moneter AS yang cenderung lebih berhati-hati,” ujarnya.
Menurut Budi, aliran modal global juga masih terbatas ke negara berkembang. Investor cenderung menempatkan dana pada aset safe haven seperti emas dan instrumen keuangan AS. Hal itu mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) sekaligus kenaikan harga emas, sementara prospek ekonomi sejumlah negara emerging market masih tertahan.
Di sisi lain, risiko harga minyak dunia diprakirakan cenderung tertekan. Potensi kelebihan pasokan global, termasuk rencana peningkatan produksi migas Venezuela hingga jutaan barel per hari, berisiko menyebabkan banjir pasokan yang menahan harga minyak pada level rendah dalam jangka menengah.
Budi menambahkan, dinamika global tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi daerah penghasil komoditas, termasuk Kalimantan Timur. Tekanan dari sisi permintaan global perlu diantisipasi dengan penguatan fondasi ekonomi domestik agar ketahanan ekonomi daerah tetap terjaga.
“Kondisi global ini menjadi tantangan bagi daerah penghasil komoditas, termasuk Kaltim, sehingga perlu terus memperkuat ketahanan ekonomi domestik,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo