Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Promosi Pariwisata Balikpapan Terbatas, Kegiatan di Malaysia dan Brunei Baru Sebatas Wacana 

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 22 Januari 2026 | 20:46 WIB
TERKENDALA ANGGARAN: Pelaku wisata di Balikpapan berharap pemerintah makin gencar melakukan promosi ke luar daerah hingga mancanegara untuk menarik kunjungan turis.
TERKENDALA ANGGARAN: Pelaku wisata di Balikpapan berharap pemerintah makin gencar melakukan promosi ke luar daerah hingga mancanegara untuk menarik kunjungan turis.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Keterbatasan anggaran promosi masih menjadi tantangan utama dalam upaya memperluas jangkauan pariwisata dan bisnis perhotelan di Balikpapan.

Hingga saat ini, promosi yang melibatkan pelaku usaha hotel, travel dan pemerintah daerah masih didominasi kegiatan dalam negeri dengan frekuensi yang relatif terbatas.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto mengungkapkan, selama ini promosi pariwisata dan bisnis dilakukan melalui kegiatan tabletop atau business matching yang hanya bisa dilaksanakan dua hingga tiga kali dalam setahun.

Kota-kota yang menjadi tujuan promosi pun masih berkutat di pasar domestik seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar.

“Selama ini memang karena keterbatasan dana, jadi yang bisa kita lakukan antara travel, hotel dan dinas itu setahun dua sampai tiga kali keluar kota. Itu pun sifatnya tabletop atau business matching,” katanya, Kamis (22/1).

Pola promosi seperti ini diakui pria yang menjabat Direktur Operasional Platinum Indonesia itu belum cukup untuk mendorong lonjakan signifikan kunjungan wisatawan ke Balikpapan, terutama dari luar Kalimantan.

Pasar yang paling dominan masih wisatawan regional Kalimantan Timur, sementara potensi pasar luar daerah dan luar negeri belum tergarap maksimal.

Di sisi lain, sebelumnya, terdapat wacana lama untuk memperluas promosi ke luar negeri, khususnya ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Negara-negara tersebut dinilai memiliki kedekatan geografis dan kultural, serta potensi pasar yang cukup besar. Soegianto menilai Brunei sebagai pasar strategis karena banyak warganya yang tinggal dan beraktivitas di Balikpapan.

“Kalau Brunei itu sebenarnya potensinya besar. Banyak sekali orang Brunei yang tinggal di Balikpapan. Jadi promosi ke sana itu masuk akal dan sebenarnya sudah lama diwacanakan,” tuturnya.

Wacana promosi internasional ini, lanjut Soegianto, sebelumnya sempat mendapat lampu hijau dari pemerintah daerah. Saat sekretaris daerah sebelumnya masih menjabat, rencana promosi ke Brunei dan Malaysia bahkan sudah disetujui secara prinsip. Namun hingga kini realisasinya belum berjalan.

Ketidakpastian semakin terasa dengan munculnya kondisi baru yakni efisiensi, yang membuat perencanaan promosi tahun ini dan tahun depan kembali menjadi tanda tanya. Hingga awal tahun, belum ada pembahasan lanjutan antara PHRI, ASITA, dan Dinas Pariwisata terkait program promosi bersama.

“Sampai sekarang ini belum ada pembahasan lagi. Januari ini saya juga belum pernah ketemu dengan Dinas Pariwisata untuk membahas planning promosi tahun ini atau tahun depan. Jadi memang masih tanda tanya,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, Soegianto menilai perlu adanya kepastian kebijakan dan dukungan anggaran agar promosi pariwisata Balikpapan tidak stagnan. Tanpa langkah yang lebih agresif, Balikpapan berisiko kalah bersaing dengan daerah lain yang lebih aktif memasarkan destinasinya, baik di dalam maupun luar negeri. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#bisnis perhotelan #Keterbatasan Anggaran #promosi pariwisata #pariwisata #balikpapan