Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Industri Pengolahan dan Konstruksi Diprediksi Dorong Ekonomi Kaltim 2026

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 23 Januari 2026 | 17:27 WIB
KONSTRUKSI: Sektor konstruksi diprediksi akan jadi penggerak utama perekonomian daerah pada 2026. Seiring rencana pembangunan di IKN.
KONSTRUKSI: Sektor konstruksi diprediksi akan jadi penggerak utama perekonomian daerah pada 2026. Seiring rencana pembangunan di IKN.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Prospek ekonomi Kalimantan Timur pada 2026 diprakirakan membaik. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kaltim akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor industri pengolahan dan konstruksi sebagai penggerak utama ekonomi daerah.

Perbaikan prospek ekonomi tersebut sejalan dengan peningkatan aktivitas industri bernilai tambah serta berlanjutnya pembangunan fisik di daerah. Kinerja sektor industri pengolahan diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya kapasitas refinery migas yang kembali beroperasi secara optimal.

Selain itu, penguatan sektor tersebut juga didorong oleh hadirnya sejumlah industri baru di Kaltim, termasuk smelter yang mulai beroperasi.

“Ekonomi Kaltim diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi pada 2026, terutama didorong oleh peningkatan kapasitas industri pengolahan dan berlanjutnya pembangunan konstruksi,” tegas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto, Jumat (23/1).

Selain industri pengolahan, sektor konstruksi juga diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim. Penguatan sektor itu seiring rencana pembangunan proyek besar di Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif.

Tak hanya proyek pemerintah, sektor konstruksi juga ditopang oleh rencana investasi swasta, khususnya di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK). Aktivitas investasi tersebut diharapkan memberi dampak lanjutan terhadap pergerakan ekonomi daerah.

Meski demikian, Budi mengingatkan adanya sejumlah faktor penahan yang perlu diantisipasi. Permintaan batu bara global yang masih lesu, moderasi progres pembangunan IKN akibat penurunan pagu anggaran, serta potensi kontraksi proyek konstruksi menjadi tantangan ke depan.

“Meski terdapat tantangan dari sisi global, potensi pertumbuhan Kaltim tetap terbuka dengan penguatan sektor-sektor bernilai tambah,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pertumbuhan ekonomi #Ekonomi Kaltim #bank indonesia #konstruksi #industri pengolahan #kalimantan timur