Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tak Takut Kopi Gerobakan, Laris dan Hage Coffee Jual Pengalaman Nongkrong di Samarinda

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 24 Januari 2026 | 14:10 WIB
BUDAYA: Nongkrong atau minum kopi di tempat masih jadi tren kuat di Samarinda. Pengalaman atau suasana di tempat jadi hal yang ditonjolkan.
BUDAYA: Nongkrong atau minum kopi di tempat masih jadi tren kuat di Samarinda. Pengalaman atau suasana di tempat jadi hal yang ditonjolkan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Maraknya kopi gerobakan dengan harga murah tak membuat pengelola kedai kopi kehilangan arah. Muhammad Adam Nazuari, owner Laris Coffee dan Hage Coffee, justru melihat fenomena tersebut sebagai bukti bahwa pasar kopi memiliki segmentasi masing-masing.

Menurut Adam, kopi keliling memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan dan harga, namun tidak serta-merta menggeser eksistensi coffee shop yang menyediakan ruang nongkrong. “Menurut keyakinan saya, kopi gerobakan itu tetap punya market sendiri dan coffee shop juga punya market sendiri,” ujarnya.

Dia menilai karakter Samarinda berbeda dengan Jakarta. Tingkat kepadatan dan lalu lintas yang lebih rendah membuat budaya ngopi cepat ala kopi gerobakan tidak sepenuhnya menjadi kebiasaan utama.

“Samarinda enggak se-high traffic Jakarta. Kebiasaan orang di sini masih suka nongkrong. Kopi gerobakan atau kopi keliling ini kan membawa hype di Jakarta itu,” katanya.

Karena itu, Adam memilih tidak terlibat perang harga. Laris Coffee mematok harga minuman kopi dan nonkopi mulai Rp20 ribu, sementara Hage Coffee berada mulai Rp15 ribu. “Kami enggak bisa main harga misal Rp12 ribu. Model bisnisnya beda,” jelasnya.

Alih-alih menekan harga, Adam fokus menjual pengalaman. Dia merancang Laris Coffee dengan berbagai fasilitas yang menjawab kebutuhan pengunjung Samarinda, mulai dari smoking room ber-AC, ruang kerja (work from cafe atau WFC), photobox permanen, hingga area duduk dalam ruangan yang nyaman.

“Samarinda panas. Kalau orang mau merokok tapi tetap dingin dan nyaman, ya kami sediakan,” katanya.

Inspirasi konsep tersebut dia dapat dari pengamatannya terhadap tren coffee shop di Jakarta. Adam rutin memantau perkembangan kedai kopi di ibu kota, baik lewat kunjungan langsung maupun media sosial. “Saya lihat di Jakarta, hal-hal sederhana seperti smoking room AC bisa jadi konten dan daya tarik,” ujarnya.

Selain fasilitas, Adam juga memperhatikan karakter rasa yang sesuai dengan lidah lokal. Dia mengembangkan produk dengan tekstur creamy dan kental yang disukai masyarakat Kalimantan, tanpa rasa terlalu manis. “Orang sini suka yang creamy kayak susu kental, tapi tetap harus seimbang,” katanya.

Dia menyebut pola kunjungan di Laris Coffee juga terbagi jelas berdasarkan waktu. Pagi hingga siang diisi pekerja, sales, dan pengunjung yang bekerja dari kafe. Sementara malam hari didominasi anak muda yang datang untuk nongkrong. “Market siang dan malam itu beda jauh. Makanya konsepnya saya buat bisa nangkap semua,” ujarnya.

Terkait inovasi menu musiman, Adam memilih berhati-hati. Menurutnya, strategi menu seasonal lebih cocok untuk brand besar berskala nasional. “Kalau coffee shop lokal, risikonya besar karena bahan harus beli banyak. Kalau gagal, bisa rugi,” katanya.

Ke depan, Adam mengaku tetap optimistis membuka coffee shop baru di Samarinda. Dia yakin selama pengalaman dan kenyamanan menjadi fokus utama, kedai kopi lokal masih memiliki ruang untuk tumbuh. “Kami enggak mau cuma rame sesaat. Yang penting sustain,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Muhammad Adam Nazuari #hage coffee #bisnis kopi #kedai kopi #kopi gerobakan #pasar kopi #laris