KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bisnis kopi gerobak motor makin menunjukkan eksistensinya dan tak lagi sekadar hype. Di Samarinda, permintaan pasar yang stabil mendorong pelaku usaha terus menambah unit setiap bulannya.
Model usaha ini dinilai punya ongkos operasional rendah namun menawarkan cuan yang melimpah seiring meningkatnya kebutuhan kopi praktis.
Salah satu pelaku usaha yang menikmati pertumbuhan signifikan adalah Tepian Kopi, brand kopi gerobak motor milik Juna Irawan. Mengusung harga mulai Rp 8.000 per cup, Tepian Kopi menyasar segmen pekerja dan masyarakat yang ingin menikmati kopi murah dan praktis.
“Segmentasinya beda. Kalau di coffee shop orang datang untuk duduk, santai dan menikmati suasana. Kalau kopi gerobak motor ini kebutuhannya cepat, pas di jalan, mau berangkat kerja,” kata Juna saat ditemui di kantor produksi Tepian Kopi, Jalan Dirgantara, Samarinda.
Juna bercerita, tren kopi gerobak motor ini lebih dulu ramai di Jakarta sekitar dua tahun lalu. Melihat geliat ratusan gerobak kopi di ibu kota, ia memilih menunggu waktu yang tepat sebelum masuk ke Samarinda.
“Kami lihat dulu pangsa pasarnya. Setiap kota kan seleranya beda. Setelah ada yang mulai coba dan kelihatan pasarnya ada, baru kami bergerak,” ujarnya.
Tepian Kopi mulai beroperasi pada Januari 2025, bermodal dua unit gerobak motor yang dia custom khusus dari Pulau Jawa. Seiring respons pasar yang positif, jumlah gerobak terus bertambah.
Saat ini, Tepian Kopi mengoperasikan sekitar 12 gerobak di Samarinda dan Balikpapan. “Awalnya dua unit, bulan berikutnya nambah dua lagi. Totalnya 12,” kata Juna.
Dari sisi operasional, konsep efisiensi menjadi kunci agar harga tetap terjangkau. Jika coffee shop umumnya menggunakan takaran espresso sekitar 60 mililiter per sajian, Tepian Kopi hanya memakai 30 mililiter. Begitu pula penggunaan sirup yang disesuaikan agar biaya tetap terkendali.
“Kopi yang kami buat juga bisa tahan sampai dua hari kalau disimpan di kulkas. Kalau lewat dari itu, sudah tidak kami jual,” ujarnya.
Setiap hari, satu gerobak umumnya membawa stok 40 hingga 80 cup per hari, dengan kebutuhan es batu sekitar 10 kilogram. Jam operasional dimulai pukul 10.00 hingga 18.00 Wita dan bisa diperpanjang hingga pukul 20.00 saat ramai. Selama bulan Ramadan, jam jualan bergeser dari pukul 15.00 hingga 23.00 Wita.
Dari sisi pendapatan, satu gerobak dapat mencatat omzet kotor sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari, tergantung lokasi dan keramaian. Dengan jumlah gerobak yang cukup banyak, akumulasi pendapatan dinilai cukup menjanjikan.
Untuk memenuhi itu, dalam sehari dia bisa memproduksi sekitar 400-1000 cup kopi. Pilihannya pun banyak ada 12 macam menu dari kopi hingga non-kopi.
“Kalau total 10 gerobak, omzet kotor sehari bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Kadang agak siang atau sore sudah habis, driver langsung pulang,” ungkap Juna.
Saat ini Tepian Kopi mempekerjakan sekitar 15 karyawan, mulai dari tim produksi pagi hari hingga driver gerobak yang merangkap barista. Sistem pengupahan mengombinasikan gaji pokok, pembagian hasil, dan bonus bulanan berbasis target.
Menurut Juna, titik keuntungan baru benar-benar terasa ketika jumlah gerobaknya sudah di atas delapan unit. “Kalau masih sedikit, karena sistemnya sharing, keuntungannya belum terasa. Setelah banyak, baru kelihatan,” sebutnya.
Dibanding membuka coffee shop, model bisnis kopi gerobak motor dinilai jauh lebih ringan dari sisi modal. Untuk dua gerobak awal, Juna mengaku mengeluarkan dana sekitar Rp 50 juta, termasuk mesin dan peralatan kopi. Angka ini jauh di bawah biaya membuka kafe yang bisa menembus ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Ke depan, Tepian Kopi tak hanya fokus menambah jumlah gerobak, tetapi juga berinovasi. Salah satunya dengan menghadirkan gerobak khusus malam hari yang dilengkapi lampu LED, serta rencana menghadirkan konsep “kopi bajaj” untuk segmen nongkrong malam. “Kalau gerobak pagi-sore mungkin sudah cukup. Sekarang kita cari jam sore sampai malam,” ujarnya.
Untuk bisnis ini, Juna optimistis bisnis kopi gerobak motor masih memiliki ruang tumbuh. “Kopi itu sudah kayak rokok atau vape, konsumtif. Insyaallah masih aman ke depannya,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo