Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mazda Bidik Momentum Pemulihan Pasar Otomotif di Tahun 2026, Ini Strateginya

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 28 Januari 2026 | 18:53 WIB
SEGMENTASI: Mazda membidik konsumen yang mengutamakan kenyamanan berkendara, memiliki kebanggaan terhadap desain kendaraan, serta menghargai nilai emosional dalam kepemilikan mobil.
SEGMENTASI: Mazda membidik konsumen yang mengutamakan kenyamanan berkendara, memiliki kebanggaan terhadap desain kendaraan, serta menghargai nilai emosional dalam kepemilikan mobil.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Mazda melihat tahun 2026 sebagai periode pemulihan bertahap bagi industri otomotif nasional. Pada semester pertama, pasar diperkirakan masih bergerak stabil, sementara akselerasi pertumbuhan diyakini dapat terjadi pada semester kedua, seiring membaiknya sejumlah faktor pendukung.

Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia Ricky Thio mengatakan, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat penting seperti stabilitas sosial, birokrasi yang lebih memudahkan, iklim kompetisi industri yang sehat, serta sinergi lintas ekosistem otomotif.

“Kurva daya beli diharapkan kembali naik. Dengan ekosistem yang sehat dan kolaboratif, industri ini akan menemukan momentumnya,” terangnya, Rabu (28/1).

Untuk menjaga relevansi di 2026, Mazda akan menerapkan strategi segmentasi yang lebih presisi. Perusahaan membidik konsumen yang mengutamakan kenyamanan berkendara, memiliki kebanggaan terhadap desain kendaraan, serta menghargai nilai emosional dalam kepemilikan mobil.

Sejalan dengan itu, Mazda juga memperkuat kapabilitas sales force agar lebih akurat dalam mengidentifikasi karakter konsumen.

Selain strategi segmentasi, Mazda berencana meluncurkan beberapa model baru pada 2026, dengan mayoritas berada di segmen SUV. Langkah ini dinilai selaras dengan kebutuhan pasar Indonesia yang semakin menekankan utilitas dan kenyamanan.

Berdasarkan laporan GAIKINDO kuartal ketiga 2025 dan analisis pasar otomotif lokal oleh PwC Indonesia 2025, struktur permintaan konsumen menunjukkan pergeseran. Sejumlah segmen mengalami pelemahan, sementara segmen lain tetap tangguh dan bahkan bertumbuh, mencerminkan perubahan preferensi konsumen Indonesia.

Ricky menilai dinamika tersebut menegaskan bahwa keputusan pembelian kendaraan kini semakin multidimensional.

“Di Indonesia, sebagian besar orang masih menganggap mobil sebagai means of mobility, elemen penting dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, banyak orang juga melihat mobil sebagai cara untuk enrich the quality of life, sejalan dengan pemikiran Mazda bahwa the joy of driving may create the joy of living,” katanya.

Mazda melihat perubahan preferensi konsumen ini berbicara mengenai dua aspek utama, yakni kebutuhan rasional dan aspirasi emosional. Pada kuartal ketiga 2025, kompetisi pasar dinilai semakin sehat. Di tengah perlambatan beberapa segmen, Mazda mampu menjaga stabilitas kinerjanya.

Ricky mengungkapkan bahwa Mazda hanya mengalami penurunan 0,12 persen market share pada Oktober 2025, lebih rendah dibandingkan beberapa pabrikan Jepang lain yang terkoreksi hingga 2 sampai 3 persen.

Pada level ritel, kontraksi sebesar 39 persen hingga 44 persen terjadi pada sejumlah merek Jepang dan Eropa di segmen kendaraan premium. Sementara itu, Mazda mencatat kontraksi di kisaran 29 persen, ditopang oleh performa stabil Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda 3 Hatchback, yang dikenal dengan desain khas serta karakter berkendara Mazda.

Ia menambahkan, konsumen Indonesia kini semakin cermat dalam menilai Total Ownership Cost atau TOC, yang mencakup biaya purna jual seperti servis dan perawatan, biaya registrasi dan administrasi, hingga nilai jual kembali. Aspek-aspek ini menjadi fondasi rasional dalam pengambilan keputusan pembelian.

Namun demikian, faktor rasional tersebut tidak berdiri sendiri. Ekosistem otomotif juga dipengaruhi oleh regulasi pemerintah, dinamika industri, serta kesiapan infrastruktur, yang bersama-sama membentuk arah preferensi konsumen.

“Indonesia adalah salah satu pasar otomotif yang sangat value competitive. Dengan banyaknya value proposition dari berbagai APM, konsumen perlu menggabungkan faktor rasional seperti TOC dengan kebutuhan personal mereka,” jelas Ricky.

Selain biaya kepemilikan, keputusan pembelian juga ditentukan oleh faktor pendukung seperti reliabilitas, kualitas produk, efisiensi bahan bakar, keamanan, kenyamanan berkendara, serta nilai emosional antara pengemudi dan kendaraan.

Mazda menanamkan nilai tersebut melalui filosofi KODO Design dan Jinba Ittai, yang memandang kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan partner berkendara. “Beauty is universal. Emosionalitas desain adalah bahasa yang dipahami semua orang,” kata Ricky.

Ia menegaskan Mazda tetap memperhatikan TOC dan kelengkapan fitur yang relevan, namun menambahkan nilai emosional sebagai pembeda utama. “Mazda menambahkan emotional value yang membedakan kami, mulai dari KODO Design, Jinba Ittai, hingga pengalaman berkendara yang menyatu antara manusia dan mesin," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#industri otomotif #mazda #pertumbuhan #momentum