Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup melemah 406,88 poin atau 4,88 persen ke posisi 7.922,73. Sejak pembukaan, indeks sudah bergerak lemah dan tak pernah mampu bangkit sepanjang sesi. IHSG sempat menyentuh level terendah di kisaran 7.820 sebelum akhirnya menutup perdagangan di dekat titik terendah harian.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 28,91 triliun dengan volume 47,53 miliar saham. Aktivitas perdagangan berlangsung padat, namun didominasi aksi jual. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi sekitar Rp 14.239 triliun.
Tekanan pasar terlihat jelas dari komposisi pergerakan saham. Lebih dari 750 saham terkoreksi, sementara hanya puluhan saham yang mampu mencatatkan penguatan. Kondisi ini menandakan sentimen negatif yang meluas, bukan sekadar koreksi sektoral terbatas.
Sejumlah indeks utama ikut tertekan. LQ45 turun lebih dari tiga persen. Indeks saham syariah mencatatkan penurunan lebih dalam, dengan Jakarta Islamic Index melemah hampir tujuh persen. Indeks KOMPAS100 juga kehilangan hampir lima persen nilainya.
Sektor Bahan Baku Paling Terpukul
Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor ditutup di zona merah. Sektor bahan baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan lebih dari sepuluh persen. Saham-saham energi dan barang konsumen siklikal juga mengalami tekanan berat, masing-masing terkoreksi sekitar tujuh persen.
Sektor properti, transportasi, teknologi, hingga infrastruktur mencatatkan penurunan di atas enam persen. Hanya sektor kesehatan dan barang konsumen primer yang relatif lebih defensif, meski tetap ditutup melemah.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham tambang dan energi. Sejumlah emiten berkapitalisasi besar di sektor ini anjlok mendekati batas auto rejection bawah. Saham-saham mineral, batu bara, hingga energi terbarukan dilepas investor secara agresif.
Sebaliknya, saham perbankan besar menunjukkan pergerakan yang lebih stabil. Beberapa saham bank pelat merah dan swasta besar masih mampu bertahan, bahkan mencatatkan kenaikan tipis di tengah gejolak pasar.
Analis menilai pelemahan tajam ini mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik. Ketidakpastian arah kebijakan global, fluktuasi harga komoditas, serta kekhawatiran investor terhadap valuasi saham menjadi faktor yang membebani pasar.
Dengan koreksi yang semakin dalam, pelaku pasar kini mencermati peluang rotasi ke saham-saham berfundamental kuat. Namun dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih tinggi, seiring investor menunggu kejelasan sentimen berikutnya.
Editor : Uways Alqadrie