KALTIMPOST.ID, Akhir Januari 2026 menjadi periode yang tidak mudah bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tajam hingga sekitar 8 persen dalam waktu singkat.
Penurunan ini tak hanya memicu kekhawatiran investor, tetapi juga memunculkan satu istilah lama yang kembali ramai diperbincangkan, yaitu “saham gorengan”.
Isu ini makin menguat setelah pernyataan pejabat tinggi negara yang menyinggung praktik goreng-gorengan saham sebagai salah satu penyebab pasar kehilangan kepercayaan. Lantas, apa kaitannya saham gorengan dengan anjloknya IHSG?
Baca Juga: Prabowo Naikkan Porsi Dana Pensiun ke Saham hingga 20 Persen, Apa Dampaknya bagi Pasar Modal?
Apa Itu IHSG dan Mengapa Penurunannya Penting?
IHSG merupakan cerminan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, baik di papan utama maupun papan pengembangan.
Ketika IHSG melemah, itu menandakan mayoritas saham sedang tertekan.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 1 April 1983 dengan nilai dasar 100 poin, IHSG telah menjadi barometer utama kondisi pasar saham Indonesia.
Naik turunnya indeks ini sering dijadikan acuan oleh investor, pelaku usaha, hingga pembuat kebijakan ekonomi.
Karena itu, saat IHSG jatuh cukup dalam, menjadi tanda tanya besar, apakah ini hanya koreksi biasa, atau ada masalah yang lebih serius?
Faktor yang Memengaruhi Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi global hingga sentimen dalam negeri.
Beberapa faktor utama antara lain:
- Kondisi ekonomi global, seperti suku bunga Amerika Serikat dan harga minyak dunia
- Faktor domestik, termasuk inflasi, nilai tukar rupiah, dan kebijakan pemerintah
- Kinerja emiten, terutama laporan keuangan dan prospek bisnis
- Sentimen pasar, seperti isu politik, kepercayaan investor, dan rumor yang beredar
Namun dalam kasus terbaru, perhatian publik tertuju pada satu faktor non-fundamental yang dinilai merusak kepercayaan pasar.
Saham Gorengan Kembali Jadi Sorotan
Saham gorengan adalah istilah untuk saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan kondisi bisnis sebenarnya.
Harga saham jenis ini biasanya digerakkan oleh segelintir pihak bermodal besar untuk menciptakan kesan seolah-olah saham tersebut “menarik”.
Akibatnya, banyak investor ritel tergoda ikut membeli, tanpa sadar bahwa kenaikan harga tersebut bukan didukung kinerja perusahaan.
Isu saham gorengan kembali mencuat setelah laporan lembaga internasional menyoroti aspek keterbukaan pasar saham Indonesia, termasuk soal kepemilikan saham publik dan kemudahan akses pasar.
Ciri-Ciri Saham Gorengan yang Perlu Diwaspadai
Bagi investor awam, mengenali saham gorengan sangat penting agar tidak terjebak. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Volume transaksi tiba-tiba melonjak, padahal sebelumnya sepi
- Harga naik drastis tanpa kabar jelas, baik dari kinerja perusahaan maupun aksi korporasi
- Pergerakan harga sangat liar, bisa naik tinggi lalu jatuh dalam waktu singkat
Saham dengan ciri seperti ini seringkali terlihat “menggiurkan”, namun menyimpan risiko besar.
Baca Juga: Euforia IPO Mereda Cepat, Saham Superbank Terkoreksi Tajam di Pagi Hari
Risiko Saham Gorengan bagi Investor Ritel
Di balik lonjakan harga yang menggiurkan, saham gorengan menyimpan sejumlah risiko serius:
1. Potensi Kerugian Besar
Harga saham bisa anjlok tajam setelah euforia berakhir, membuat investor ritel kesulitan menjual kembali.
2. Fundamental Lemah
Mayoritas saham gorengan berasal dari perusahaan dengan kinerja keuangan yang tidak solid.
3. Harga Sulit Diprediksi
Pergerakan ekstrem membuat investor sulit menentukan waktu beli dan jual yang aman.
4. Berisiko Kena Suspensi
Saham dengan pola tidak wajar sering diawasi ketat dan bisa dihentikan sementara perdagangannya.
Poin Penting dari Anjloknya IHSG
Koreksi tajam IHSG menjadi pengingat bahwa pasar saham bukan sekadar soal ikut tren.
Memahami dasar investasi, membaca kondisi pasar, dan tidak mudah tergiur kenaikan instan adalah kunci bertahan dalam jangka panjang.
Bagi investor pemula, peristiwa ini bisa menjadi momen refleksi untuk lebih selektif memilih saham dan fokus pada perusahaan dengan kinerja nyata, bukan sekadar pergerakan harga yang tampak menarik di permukaan.***
Editor : Dwi Puspitarini