Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

BI Sebut Inflasi Kaltim Tetap Terkendali, Kenaikan Harga Emas Jadi Penahan Tekanan Bulanan

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 3 Februari 2026 | 13:45 WIB
PENAHAN: Emas jadi penekan inflasi pada Januari 2026. Harganya melonjak sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025.
PENAHAN: Emas jadi penekan inflasi pada Januari 2026. Harganya melonjak sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bank Indonesia menilai inflasi Kalimantan Timur pada Januari 2026 masih berada dalam kondisi terkendali, terutama secara bulanan, di tengah berlanjutnya tekanan harga dari komoditas emas perhiasan.

Normalisasi harga pangan dan transportasi pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi faktor utama yang menahan inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan menyampaikan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Timur pada Januari 2026 mencatat inflasi 0,04 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,71 persen (mtm).

Perkembangan tersebut mendorong inflasi tahunan Kaltim berada di level 3,76 persen (year-on-year/yoy) dengan inflasi tahun berjalan 0,04 persen (year to date/ytd). Meski demikian, inflasi tahunan Kaltim tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang nilainya 3,55 persen (yoy).

Dari sisi sumber tekanan, Jajang menjelaskan bahwa inflasi Januari 2026 utamanya disumbangkan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, seiring berlanjutnya kenaikan harga emas di awal tahun.

"Sejalan dengan kenaikan harga emas yang masih berlanjut di awal tahun. Rata-rata harga emas tercatat mencapai Rp2,86 juta per gram atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025," bebernya.

Kondisi tersebut mendorong kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 3,17 persen (mtm) dengan andil 0,23 persen (mtm) terhadap inflasi bulanan.

Selain emas, tekanan inflasi juga bersumber dari kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami inflasi 0,44 persen (mtm) dengan andil 0,02 persen (mtm), serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang dipengaruhi meningkatnya permintaan komoditas pakaian serta penyesuaian tarif air minum PAM sebagai dampak kenaikan biaya operasional.

Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan transportasi. Penurunan harga pangan didukung panen raya di sejumlah sentra produksi, termasuk cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di wilayah Jawa dan Sulawesi.

"Selain itu, terjadi normalisasi tarif angkutan udara pasca tingginya permintaan pada periode Nataru, serta penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Januari yang tercatat menurun sekitar 3-4 persen," lanjutnya.

Untuk menjaga stabilitas harga ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.

“Selain itu, sebagai penguatan kapasitas kelembagaan, telah dilaksanakan capacity building TPID Kaltim pada 14-15 Januari 2026 yang bertujuan untuk mempertahankan prestasi kinerja pengendalian inflasi daerah melalui pembekalan dan refreshment penyusunan laporan TPID," tutupnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#Ekonomi Kaltim #harga emas #bank indonesia #transportasi #harga pangan #Jajang Hermawan #Inflasi Kalimantan Timur #BI Kaltim