Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ekonom Sebut Tekanan Global Bisa Gerus Daya Tahan Kelas Menengah, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 10 Februari 2026 | 05:10 WIB
Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.
Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kelas menengah dinilai menjadi kelompok paling rentan terdampak gejolak ekonomi global yang memicu pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas.

Padahal, kelompok ini memiliki peran besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional melalui konsumsi dan aktivitas produktif.

Dikhawatirkan jika pendapatan kelas menengah terus tergerus tanpa dukungan stimulus yang memadai, fondasi ekonomi nasional bisa menjadi rapuh kata Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.

Dari itu, Purwadi berujar, kebijakan pemerintah perlu lebih berpihak pada penguatan daya beli kelompok ini. “Kelas menengah itu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi. Kalau mereka tertekan dan tidak mendapat stimulus yang cukup, dampaknya ke ekonomi nasional bisa serius,” katanya.

Baca Juga: Sidang Praperadilan BUMDes Bumi Harapan, Ahli Nilai Penetapan Tersangka oleh Kejari PPU Harus Berbasis Kerugian Negara Pasti

Ia juga menimpali, bahwa tekanan global, termasuk potensi penguatan dolar dan kenaikan harga emas, dapat memperburuk kondisi ekonomi domestik. Jika nilai tukar rupiah melemah signifikan, beban utang luar negeri juga akan meningkat karena sebagian besar kewajiban dibayar dalam dolar.

Purwadi mengingatkan bahwa sejumlah proyeksi ekonomi bahkan memperkirakan rupiah bisa melemah lebih jauh jika tidak diantisipasi dengan baik. “Kalau sampai tembus ke level ekstrem, suhu ekonomi kita bisa semakin panas,” tambahnya.

Selain itu, ia menyoroti risiko penurunan ekspor komoditas akibat pembatasan perdagangan dari negara mitra. Jika ekspor melemah, terutama di sektor seperti batu bara, potensi pemutusan hubungan kerja tidak bisa dihindari.

“Kita berada di posisi dilematis. Ekspor penting, tapi kalau dibatasi negara lain, dampaknya ke tenaga kerja besar,” katanya.

Baca Juga: Minim Anggaran, Komisioner KPU PPU Pilih Jadi Pembina Upacara di Sekolah untuk Sosialisasi Pemilu

Purwadi menekankan pentingnya kebijakan yang seimbang dan efisien. Menurutnya, efisiensi tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat, sementara belanja negara justru membengkak.

Ia berharap pemerintah mampu mengambil langkah berani dan terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi, melindungi kelas menengah, serta memastikan pertumbuhan tetap berkelanjutan di tengah tekanan global yang kian kompleks. “Negara harus memberi contoh efisiensi. Jangan rakyat ditekan, tapi negara boros,” tegasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kelas menengah #Gejolak #pelemahan rupiah #ekonomi global #ekonom