KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bagi Andi Asni, bekerja di bank syariah bukan sekadar perjalanan karier profesional. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai jalan pengabdian.
Di balik jabatan strategisnya sebagai Manager BSI Area Balikpapan (Kaltimra), tersimpan keyakinan bahwa perbankan syariah adalah ruang dakwah modern yang menjembatani nilai spiritual dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Perempuan yang lebih dari dua dekade berkarier di industri bank syariah ini menyaksikan langsung perubahan besar perjalanan lembaga yang kini dikenal sebagai Bank Syariah Indonesia (BSI).
Ia mengalami masa ketika bank syariah masih menjadi pilihan minoritas hingga kini tumbuh menjadi kekuatan baru dalam perbankan nasional.
“Perjalanan bank syariah itu luar biasa. Dulu masyarakat sangat terbiasa dengan bank konvensional. Mengajak mereka mengenal bank syariah bukan hal mudah, tapi justru di situlah perjuangannya,” kata Andi.
Menurutnya, fase awal perkembangan bank syariah bukan hanya soal bisnis, melainkan juga proses edukasi. Para pegawai, termasuk dirinya, sering kali berperan sebagai komunikator yang menjelaskan konsep muamalah syariah kepada masyarakat.
Ia menyebut pekerjaan itu sebagai bentuk dakwah dalam praktik ekonomi sehari-hari. “Kami berpikirnya bukan hanya kerja, tapi dakwah. Ketika ada nasabah yang akhirnya membuka rekening syariah setelah berdiskusi panjang, itu rasanya sangat membahagiakan,” ujarnya.
Andi menilai kehadiran BSI sebagai hasil kebutuhan nyata masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim yang menginginkan sistem keuangan selaras dengan prinsip agama. Dukungan pemerintah terhadap penguatan bank syariah juga menjadi faktor penting yang mempercepat pertumbuhan industri ini.
Ia percaya bank syariah bukan lembaga eksklusif untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, konsep syariah menurutnya bersifat universal dan dapat dinikmati semua kalangan.
“Bank syariah itu universal. Nasabah kami bukan hanya muslim, banyak juga non-muslim yang memilih karena produk dan layanannya kompetitif,” ujarnya.
Salah satu perkembangan yang paling ia banggakan adalah hadirnya layanan bank emas atau bullion bank yang kini menjadi inovasi baru BSI. Menurutnya, lisensi tersebut menunjukkan kepercayaan besar negara kepada perbankan syariah untuk menghadirkan solusi keuangan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bisnis emas itu semua orang kenal. Ketika bank syariah bisa masuk ke sana, artinya kebutuhan masyarakat yang dulu belum terakomodir sekarang mulai terjawab,” jelasnya.
Namun bagi Andi, daya tarik terbesar bekerja di bank syariah justru terletak pada keseimbangan antara pekerjaan dan nilai spiritual. Ia merasa lingkungan kerja di BSI memberi ruang bagi karyawan untuk menjalankan ibadah sekaligus bekerja secara profesional.
“Ibadah itu bukan hanya solat atau puasa. Ibadah sosial justru paling besar dampaknya. Saat kami melayani nasabah, membangun bisnis, itu juga bagian dari ibadah,” tuturnya.
Ia menambahkan, bekerja di lembaga syariah membuat dirinya lebih terjaga secara etika dan perilaku, karena setiap aktivitas selalu dihubungkan dengan nilai tanggung jawab moral.
Kini, setelah puluhan tahun berada di jalur yang sama, Andi merasa telah menemukan tempat yang sesuai dengan tujuan hidupnya. Baginya, kebermanfaatan menjadi ukuran utama kesuksesan, bukan sekadar jabatan.
“Saya mungkin tidak berdakwah di mimbar. Tapi melalui bank syariah ini, saya bisa mengajak masyarakat memperbaiki muamalahnya. Itu yang membuat saya bertahan dan mencintai pekerjaan ini,” ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo