KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN–Transformasi besar sedang terjadi di tubuh Bank Syariah Indonesia (BSI).
Di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltim-Kaltara), kinerja pembiayaan mikro sepanjang 2025 mencatat capaian signifikan. Menutup tahun dengan realisasi sekitar Rp 300 miliar.
Area Micro Pawning Manager BSI Balikpapan Herianto menyebut, angka tersebut gabungan dari pembiayaan kredit usaha rakyat (KUR) dan non-KUR. “Total sekitar Rp 300-an miliar semua. Kalau untuk non-KUR enggak terlalu banyak. Fokusnya memang di KUR, non-KUR sekitar Rp 70-90 miliar,” ujarnya.
Distribusi penyaluran terbesar masih terkonsentrasi di Balikpapan dan Samarinda. Bukan tanpa alasan. “Karena memang dua kota itu yang paling banyak cabang. Dari sekitar 25 kantor cabang di Kaltim-Kaltara, sekitar 60 persen cabangnya BSI itu ada di dua kota itu sebenarnya,” jelasnya.
Dengan dominasi jaringan di dua kota besar tersebut, penetrasi pembiayaan relatif lebih mudah dilakukan.
Namun, tahun ini menjadi babak baru. Sejak awal 2026, BSI resmi berdiri sebagai Bank BUMN yang terpisah dari induk sebelumnya. Status tersebut membawa konsekuensi target yang jauh lebih agresif.
“Targetnya bukan 10 persen lagi tapi dua kali lipat dari target sebelumnya, dari capaian sebelumnya,” tegas Herianto.
Menurutnya, pertumbuhan 10 persen sudah terlalu konservatif. “Kalau 10 persen, mungkin 6 bulan pertama itu sudah dapat,” lanjutnya.
Artinya, mesin pembiayaan harus bekerja lebih kencang. Edukasi, ekspansi nasabah baru, dan penetrasi sektor produktif menjadi kunci. Apalagi dengan status baru sebagai bank syariah BUMN, pembuktian kinerja menjadi harga mati.
Diakui, BSI kini tak sekadar mengejar angka. Lebih dari itu, mereka sedang membangun fondasi pertumbuhan yang lebih besar, lebih luas, dan lebih kompetitif di kawasan timur Indonesia. (*)
Editor : Dwi Restu A