KALTIMPOST.ID, NUSANTARA - Meski telah mencatat omzet hingga Rp 50–75 juta per bulan, Batik Semoi Nusantara di Argomulyo belum merasa benar-benar mapan. Kelompok yang beranggotakan 16 ibu rumah tangga ini masih menyimpan mimpi untuk naik kelas.
Selama ini, mereka fokus memproduksi kain batik tulis dan cap. Untuk produk turunan seperti baju dan tas, Batik Semoi menggandeng penjahit lokal karena belum memiliki keterampilan menjahit di internal kelompok.
“Kami sebenarnya ingin tidak hanya menjual kain, tapi juga turunannya. Supaya nilai tambahnya lebih besar,” ujar Pedah Nur Rahmiati, sekretaris sekaligus marketing Batik Semoi Nusantara.
Menurut Pedah, keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan utama. Mayoritas anggota baru belajar membatik sejak mendapat pelatihan pada akhir 2023. Skill lain seperti menjahit, membuat tas, hingga mengolah kain perca menjadi suvenir kreatif masih membutuhkan pembinaan lanjutan.
Padahal, potensi itu terbuka lebar. Sisa-sisa kain produksi sebenarnya bisa diolah menjadi pouch, dompet, atau cenderamata khas Sepaku. Selain menekan limbah, produk turunan juga bisa memperluas pasar.
“Kami berharap ada pelatihan lagi. Supaya kami bisa lebih mandiri, tidak selalu bergantung pada pihak ketiga,” tambahnya.
Bagi Batik Semoi Nusantara, bertahan saja tidak cukup, mereka ingin berkembang menjadi UMKM perempuan yang tak hanya dikenal karena motif merica, tetapi juga karena kreativitas dan kemandirian usahanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo