
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais/Penulis Buku
KALTIMPOST.ID, Bagaimana ceritanya seorang jebolan Fakultas Ekonomi dan Bisnis bisa terjebur, bahkan menikmati karier di bidang pers/jurnalistik? Ya, begitulah yang terjadi pada saya di awal-awal lulus dari Universitas Airlangga beberapa tahun silam.
Dari yang semula menjadi kontributor media cetak Jurnal Sumatra hingga Redaktur Opini dan Sastra Harian Madura, semua saya jalani tanpa perencanaan yang matang. Mengalir begitu saja. Yang jelas, kala itu, bahkan sampai sekarang, kemampuan di bidang tulis-menulis menjadi "modal utama" bagi saya untuk mengais rezeki. Kasarannya, agar asap dapur tetap mengepul.
Saya sama sekali tidak menduga bahwa dunia pers ini telah menyita perhatian saya. Mulai dari menjadi penulis lepas hingga bekerja di "ruang redaksi", semua saya nikmati. Tanpa tekanan, apalagi beban yang besar. Dalam konteks ini, saya hanya ingin berbagi secuil kisah dan pengalaman hidup bahwa tidak selamanya pekerjaan kita selaras dengan bidang keilmuan yang digeluti ketika kuliah.
Cerita ringkas di dunia pers itu sebenarnya adalah pengantar untuk tulisan ini. Bahwa ternyata dalam dunia profesional, banyak perusahaan yang mulai menjadikan kompetensi sebagai alasan pokok dalam merekrut karyawan. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hanya menjadi syarat awal yang mungkin hanya sedikit dilirik.
Bisa jadi hanya sebatas formalitas. Intinya, perusahaan membutuhkan dan membidik karyawan yang andal dan profesional di bidangnya tanpa peduli nilai ijazah. Yang didambakan perusahaan adalah sejauh mana kemampuan yang kita miliki dalam bidang pekerjaan tersebut.
Seberapa banyak jam terbang kita. Itulah yang menjadi faktor pembeda dengan pelamar lainnya yang hanya bermodalkan selembar ijazah. Percayalah, era meritokrasi ini sudah berjalan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi nasional dan global, anak-anak muda kita hari ini memang sedang dihadapkan pada ancaman pengangguran. Belum lagi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa perusahaan mulai menyeruak. Pertumbuhan ekonomi nasional ternyata sebatas angka yang dalam realitasnya tidak tampak pada ekonomi warga yang menggeliat.
Masih banyak lulusan baru, dari kampus swasta maupun negeri, yang begitu gusar, bingung, bahkan hampir putus asa karena tidak kunjung memperoleh pekerjaan yang didambakan.
Tentu, persoalan ini tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak hal yang saya kira menjadi pemicunya, mulai dari jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




