Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tawarkan Cuan Melimpah, Ramadan Disebut Jadi Sekolah Bisnis Ideal Bagi Pengusaha Baru

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 1 Maret 2026 | 06:10 WIB

BELAJAR SERIUS: Pelaku usaha musiman saat Ramadan diminta tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek. Momen ini harus dimanfaatkan sebagai fase pembelajaran mulai meracik produk.
BELAJAR SERIUS: Pelaku usaha musiman saat Ramadan diminta tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek. Momen ini harus dimanfaatkan sebagai fase pembelajaran mulai meracik produk.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Momentum Ramadan tidak hanya menghadirkan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang belajar yang nyata bagi pengusaha, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) kuliner.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan, Noval Asfihani menilai, kemunculan pelaku usaha musiman selama Ramadan justru merupakan fenomena positif yang perlu didorong agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Menurutnya, meningkatnya permintaan makanan selama bulan puasa membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mencoba berwirausaha. Tradisi berbagi makanan dan kebutuhan berbuka puasa yang meningkat membuat perputaran ekonomi, terutama sektor kuliner ikut terdorong.

“Ramadan itu opportunity. Kebutuhan makanan meningkat karena banyak orang ingin berbagi. Ini kesempatan bagus bagi masyarakat untuk mencoba usaha sekaligus belajar memahami bisnis,” kata Noval.

Ia menjelaskan, pelaku usaha musiman seharusnya tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek. Ramadan bisa dimanfaatkan sebagai fase pembelajaran, mulai dari meracik produk, memahami selera pasar, hingga menghitung struktur biaya usaha secara detail.

Noval mencontohkan usaha sederhana seperti berjualan kolak pisang di Pasar Ramadan. Dari aktivitas kecil tersebut, pelaku usaha sebenarnya sudah belajar banyak hal, mulai menghitung modal bahan baku, biaya produksi, hingga menentukan harga jual yang menghasilkan keuntungan.

“Belajar bukan hanya meracik makanan, tapi juga belajar market. Misalnya beli satu tandan pisang, dihitung cost-nya berapa, profitnya berapa. Itu proses belajar bisnis yang sangat penting,” lanjutnya.

Ia menilai pengalaman satu bulan selama Ramadan dapat menjadi fondasi bagi pelaku usaha baru untuk menentukan apakah bisnis tersebut layak dilanjutkan setelah Ramadan berakhir. Dengan memahami proses bisnis sejak awal, pelaku UMKM berpeluang mengembangkan usahanya menjadi lebih stabil.

Kadin Balikpapan sendiri melihat sektor kuliner sebagai salah satu bidang UMKM yang paling dinamis. Banyak pelaku usaha kecil bermunculan setiap Ramadan dan diharapkan sebagian dari mereka mampu bertahan dan berkembang menjadi usaha permanen.

“Sayang kalau satu bulan ini tidak dimanfaatkan untuk belajar. Harapannya pengusaha baru tidak berhenti setelah Ramadan, tapi bisa terus berkembang,” tambahnya.

Noval juga menekankan pentingnya memahami efisiensi operasional sejak awal. Pengalaman menghadapi lonjakan permintaan selama Ramadan dapat menjadi bekal untuk memperbaiki sistem produksi, manajemen stok hingga strategi pemasaran di masa normal.

Menurutnya, proses belajar tersebut akan membantu pelaku usaha menjadi lebih siap menghadapi persaingan pasar setelah Ramadan usai. "Dengan pemahaman bisnis yang lebih matang, UMKM kuliner diharapkan mampu bertahan sepanjang tahun, bukan sekadar usaha musiman," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pengusaha baru #sekolah bisnis #ramadan #cuan #kadin #kuliner #umkm #balikpapan