KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Struktur impor nonmigas Kalimantan Timur pada awal 2026 masih didominasi oleh kebutuhan peralatan industri. Impor mesin dan peralatan mekanis menjadi kontributor terbesar dalam kelompok impor nonmigas.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim selama Januari 2026 impor nonmigas untuk sepuluh golongan barang utama tercatat senilai USD50,26 juta.
Nilai tersebut mengalami penurunan dibandingkan Desember 2025 yang mencapai USD62,30 juta. “Nilai impor nonmigas turun 19,33 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai.
Dari sepuluh kelompok barang tersebut, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap impor nonmigas Kaltim. Pada Januari 2026 nilainya mencapai USD24,78 juta atau sekitar 46,38 persen dari total impor nonmigas.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan Desember 2025 yang berada di angka USD23,38 juta. Secara bulanan, impor komoditas ini naik USD1,40 juta atau tumbuh 5,99 persen.
Selain mesin mekanis, beberapa komoditas lain juga mencatat peningkatan impor. Bahan kimia organik misalnya, yang naik dari USD3,88 juta menjadi USD4,44 juta atau meningkat 14,43 persen.
Lonjakan paling tajam justru terjadi pada bahan kimia anorganik. Nilainya meningkat dari hanya USD0,15 juta pada Desember 2025 menjadi USD3,67 juta pada Januari 2026.
“Dilihat dari perkembangannya terhadap Desember 2025 peningkatan nilai impor nonmigas terbesar terjadi pada golongan barang bahan kimia anorganik yang mengalami kenaikan USD3,52 juta (2.346,67 persen),” jelas Mas’ud.
Kenaikan juga terjadi pada golongan berbagai produk kimia yang naik dari USD1,09 juta menjadi USD1,94 juta atau meningkat 77,98 persen. Namun demikian, tidak semua komoditas mengalami tren positif. Beberapa kelompok barang justru mencatat penurunan impor yang cukup dalam.
Penurunan paling besar terjadi pada komoditas kapal, perahu, dan struktur terapung. Nilai impornya turun dari USD8,73 juta pada Desember 2025 menjadi USD3,41 juta pada Januari 2026. “Sebaliknya, penurunan nilai terdalam terjadi pada golongan barang kapal, perahu, dan struktur terapung turun USD5,32 juta (60,94 persen),” katanya.
Penurunan signifikan juga tercatat pada impor pupuk yang turun dari USD7,62 juta menjadi USD3,07 juta atau menyusut 59,71 persen. Selain itu, impor karet dan barang dari karet juga merosot tajam dari USD5,29 juta menjadi USD1,24 juta atau turun 76,56 persen.
Beberapa komoditas lain yang ikut mengalami penurunan adalah kendaraan dan bagiannya yang turun 29,44 persen, mesin dan perlengkapan elektrik yang turun 22,38 persen, serta instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis yang menyusut hingga 69,04 persen.
Secara keseluruhan, sepuluh golongan barang utama tersebut menyumbang porsi sangat besar terhadap impor nonmigas. “Selama Januari 2026, impor 10 golongan barang memberikan kontribusi 94,09 persen terhadap total impor nonmigas,” pungkas Mas’ud. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo