Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari 30 Kilogram Jadi 100 Boks, Ini Perjuangan Produksi Nastar Buah Naga dan Peluangnya Jadi Hampers Musiman

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 7 Maret 2026 | 19:40 WIB

PELUANG: Awal mula usaha di dunia kuliner adalah aneka kue kering. Kini tetap konsisten dijalankan dengan membuka pesanan khusus momen Lebaran.
PELUANG: Awal mula usaha di dunia kuliner adalah aneka kue kering. Kini tetap konsisten dijalankan dengan membuka pesanan khusus momen Lebaran.

KALTIMPOST.ID – Di balik satu boks nastar buah naga yang terlihat manis dan elegan, ada proses panjang dan melelahkan. Euis Maryati harus mengolah puluhan kilogram buah segar hanya untuk menghasilkan ratusan boks kue nastar Bunaga.

Selai buah naga menjadi kunci utama produknya. Prosesnya tidak sederhana karena kadar air buah naga cukup tinggi sehingga membutuhkan waktu lama untuk dimasak hingga mengental.

“Jadi dalam seminggu itu ini saya selang-seling sih bikin selai karena selai buah naga ini kan agak lama ya proses buatnya. Jadi bisa saya bikin bisa seharian tuh, pagi sampai sore itu,” jelasnya.

Dalam sekali produksi, dia bisa mengolah sekitar 30 kilogram buah naga segar. Namun hasil akhirnya menyusut cukup signifikan. “Itu bisa untuk ini sih sekitar 100 boks kue nastar, satu boks isi lima. Tapi memang ukurannya agak besar kuenya,” ujarnya.

Penyusutan bahkan bisa mencapai separuh volume awal. “Susutnya bisa sampai 50 persen lah. Pokoknya separuhnya dari pengaduk itu, kan wajah besar itu bisa separuh gitu,” katanya.

Produksi dilakukan hampir setiap hari dengan sistem selang-seling antara membuat selai dan memanggang adonan. Dalam sekali produksi, jumlahnya bisa fleksibel. Rata-rata produksi 100-200 boks. Sistemnya yakni ready stock dan memenuhi permintaan toko.

Dalam operasional harian, Euis dibantu satu karyawan tetap. Saat pesanan membludak, dia menambah tenaga lepas. “Kita berdua ngerjainnya. Kalau misalnya lagi banyak pasti saya tambah, bisa sampai dua-tiga orang,” tuturnya.

Selain fokus pada oleh-oleh bandara, Euis juga menangkap peluang musiman melalui hampers kue kering. Konsep tersebut mulai digarap sejak 2023. Hampers dipasarkan secara online melalui Instagram dan WhatsApp, menyasar pelanggan lama yang sudah mengenalnya sejak sebelum Bunaga lahir.

Permintaannya dinilai cukup menjanjikan sebagai tambahan pemasukan saat momen Ramadan dan Lebaran. “Ya, lumayan lah, jadi tambahan pemasukan akhirnya. Isian hampersnya kue kering buatan sendiri, kalau ada yang mau request isi nastar buah naga juga bisa,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, Euis mulai memikirkan inovasi turunan produk berbasis buah naga. Dia membuka kemungkinan varian isian berbeda hingga eksplorasi buah lokal lain. Meski begitu, dia menyadari inovasi tak bisa instan. Produk oleh-oleh harus tahan lama dan layak distribusi.

“Sama seperti nastar buah naga itu kan ada prosesnya. Jadi memang harus riset dulu. Penginnya sih kembangin olahan lain dari buah naga, dan pasarnya bisa untuk dijadikan oleh-oleh,” bebernya.

Dari dapur kecil dengan pengaduk besar yang terus berputar, Euis membuktikan bahwa konsistensi produksi dan keberanian membaca peluang bisa menjadi resep bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#produksi #nastar #hampers #Euis Maryati #lebaran #buah naga #bunaga