KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Lonjakan harga cabai rawit yang terjadi di Kalimantan Timur ternyata dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan strategi panen petani. Musim hujan membuat sebagian petani menunda panen untuk menjaga kualitas hasil produksi.
Dijelaskan Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan sering kali dipicu faktor alam, terutama cuaca.
“Ketika suplai dan demand ini tidak seimbang itu juga dikarenakan masalah-masalah seperti iklim dan cuaca,” katanya.
Dia mencontohkan kondisi harga cabai rawit yang melonjak beberapa waktu terakhir. Hal itu bukan semata-mata karena produksi berkurang, melainkan karena petani memilih menunda panen.
Menurut Fahmi, langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kerugian akibat kualitas cabai yang cepat rusak jika dipanen saat curah hujan tinggi. “Petani-petani lokal kita menahan panennya juga karena lagi musim hujan. Kalau mereka panen di saat hujan itu cepat busuk,” jelasnya.
Karena alasan tersebut, sebagian petani baru mulai memanen hasil tanaman mereka pada pertengahan Ramadan. Situasi tersebut membuat pasokan cabai di pasar sempat terbatas sehingga memicu kenaikan harga. Disebutkan jika kini harga cabai mulai sedikit melandai.
Meski begitu, dia mengakui harga cabai rawit masih berada di atas harga acuan tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Fenomena tersebut, lanjut Fahmi, menjadi bagian dari dinamika yang sering terjadi dalam sektor hortikultura. Produksi tanaman pangan sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, sehingga fluktuasi harga tidak selalu dapat dihindari.
Namun pemerintah daerah tetap memantau perkembangan harga secara rutin untuk memastikan stabilitas pasar tetap terjaga. Dia menilai masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan kenaikan harga yang bersifat sementara, karena pasokan biasanya akan kembali normal setelah panen berlangsung.
Dengan mulai berlangsungnya panen di pertengahan Ramadan, pemerintah optimistis ketersediaan cabai di pasar akan semakin stabil dalam waktu dekat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo