KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Perbedaan harga bahan pokok antar kabupaten dan kota di Kalimantan Timur masih menjadi tantangan dalam pengendalian inflasi daerah. Kondisi geografis serta distribusi logistik menjadi faktor utama yang memengaruhi disparitas harga di berbagai wilayah.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim Heni Purwaningsih, bahwa perbedaan harga antar daerah merupakan fenomena yang masih sering terjadi di wilayah dengan cakupan geografis luas seperti Bumi Etam.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari jarak antar wilayah hingga ketersediaan pasokan di masing-masing daerah.
Selain faktor internal daerah, perbandingan harga dengan provinsi lain juga menunjukkan bahwa sejumlah komoditas di Kaltim masih berada pada level yang relatif lebih tinggi.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan, rata-rata harga beberapa komoditas pangan di Kaltim tercatat lebih mahal.
Perbedaan tersebut terutama terlihat pada komoditas cabai dan daging sapi yang sering mengalami fluktuasi harga. Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi.
"Upaya tersebut antara lain melalui pemantauan harga secara berkala, penguatan distribusi logistik, serta koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota," jelasnya.
Pemerintah daerah menilai pengendalian inflasi merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah serta melindungi daya beli masyarakat.
Upaya tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2025-2029.
Visi pembangunan yang diusung Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji menekankan pentingnya penguatan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pengendalian inflasi merupakan bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Heni. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo