Data CoinMarketCap menunjukkan kapitalisasi pasar kripto global ikut terkoreksi 1,86 persen menjadi US$2,38 triliun. Sejumlah koin besar seperti Ethereum, Binance Coin, Solana, hingga Dogecoin kompak berada di zona merah.
Meski demikian, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dibanding emas. Dalam beberapa pekan terakhir, aset kripto ini masih mencatat kenaikan lebih dari 11 persen, berbanding terbalik dengan harga emas yang merosot lebih dari 12 persen dari puncaknya.
Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Sejak konflik memanas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, pergerakan Bitcoin dan emas mulai berlawanan arah.
Tekanan pada emas bahkan semakin dalam. Sepanjang pekan lalu, harga logam mulia itu turun hingga 10 persen—menjadi salah satu penurunan paling tajam sejak dekade 1980-an. Pada perdagangan Jumat, emas ditutup di kisaran US$4.480 per ons troi setelah anjlok 3,4 persen dalam sehari.
Kondisi tersebut memunculkan pandangan baru di kalangan investor. Bitcoin yang sebelumnya dianggap aset berisiko, kini mulai dilirik sebagai alternatif penyimpan nilai di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Sinyal kebijakan moneter yang cenderung ketat dinilai turut memberi tekanan tambahan terhadap harga emas.
Editor : Uways Alqadrie