Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tekanan Global Uji Ketahanan Dunia Usaha di Kaltim

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 24 Maret 2026 | 06:20 WIB

TEKANAN: Konflik Timur Tengah membuat kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memicu peningkatan biaya operasional dan distribusi barang.
TEKANAN: Konflik Timur Tengah membuat kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memicu peningkatan biaya operasional dan distribusi barang.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pelaku usaha di Kalimantan Timur tengah menghadapi tekanan yang tidak ringan di awal tahun ini. Ketidakstabilan ekonomi global akibat konflik geopolitik berdampak langsung terhadap aktivitas bisnis, terutama melalui kenaikan harga energi dan terganggunya distribusi.

Ketua DPP APINDO Kalimantan Timur Abriantinus mengatakan, kondisi dunia yang belum stabil memberikan efek berantai bagi dunia usaha di daerah. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memicu peningkatan biaya operasional dan distribusi barang.

“Kita saat ini memang diperhadapkan dengan tantangan berat. Dunia tidak stabil karena peperangan, dan dampaknya luar biasa, terutama kenaikan harga akibat minyak dunia serta hambatan distribusi,” kata Abriantinus.

Ia menjelaskan, situasi ini semakin terasa di momentum Ramadan dan menjelang Lebaran, di mana kebutuhan masyarakat meningkat tajam. Hal tersebut memaksa pelaku usaha untuk tetap menjaga pasokan di tengah tekanan biaya yang terus naik.

Meski demikian, Abriantinus menegaskan bahwa pelaku usaha tidak boleh menyerah dengan kondisi yang ada. Ia mendorong seluruh pengusaha untuk tetap fokus menjalankan usaha masing-masing sambil berharap kondisi global segera membaik.

“Kita tidak boleh berputus asa. Kita harus tetap berjuang agar ekonomi bisa terus bertumbuh. Sambil kita berdoa supaya ke depan makin baik, termasuk kita harapkan perdamaian dunia bisa terwujud,” harapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran semua pihak dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk pemerintah dan pelaku usaha itu sendiri. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk menghadapi tekanan global yang tidak bisa dihindari.

Abriantinus menambahkan, anggota APINDO di Kalimantan Timur saat ini mendekati 100 pelaku usaha dari berbagai sektor. Hal ini menunjukkan bahwa dunia usaha di daerah masih memiliki daya tahan, meskipun di tengah tekanan ekonomi global.

"Pelaku usaha harus dapat terus beradaptasi dan mencari peluang baru, terutama di sektor-sektor yang tetap memiliki permintaan tinggi di tengah ketidakpastian global," tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#konflik timur tengah #pelaku usaha #kaltim #ekonomi global #Aktivitas bisnis