KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Imlek 2026 menjadi momen tak terlupakan bagi pasangan suami istri, David Limoris dan Tjiu Merry Natalia. Mereka kebanjiran order es krim, hingga membuat mereka baru bisa memejamkan mata pukul dua dini hari.
Lebih sibuk ketimbang rutinitas hari-hari sebagai perbankan atau pekerja konstruksi. Pasangan suami istri ini memang memiliki kesibukan tambahan ketika merintis usaha IceKlim pada 2025 lalu.
Siang harinya, David masih bekerja di perusahaan konstruksi. Merry pun tetap menjalani rutinitas sebagai pegawai perbankan. Namun begitu malam tiba, keduanya beralih peran menjadi produsen es krim rumahan.
“Tiap malam itu tidurnya sampai jam setengah dua. Waktu itu belum ada karyawan sama sekali. Semua kami yang kerjakan langsung," sebut David. Dia pun harus memilih untuk stop Instagram Ads. Bukan karena sepi, tapi karena sudah tidak sanggup melayani.
Kisah IceKlim dimulai jauh sebelum mereka membuka usaha. Resepnya berasal dari ayah David, yang juga seorang pengusaha es krim kecil-kecilan di Banjarmasin yang sudah lama merintis sendiri.
David yang tumbuh melihat sang ayah berjualan akhirnya membawa resep itu merantau ke Samarinda, lalu mengembangkannya: dimodernisasi, dikemas ulang dan diberi nama baru.
“Aku lihat usaha bapak itu sebenarnya sudah bagus. Harga oke, rasa juga oke,” kata David. “Tapi aku ingin bikin versi yang lebih bisa dijangkau banyak orang, tanpa mengorbankan rasa," unkapnya.
IceKlim mulai dijual secara online pada akhir September 2025. Saat itu, hanya ada enam varian rasa. Penjualan berjalan pelan, mengandalkan strategi hampers dan promosi digital sederhana.
Momentum pertama datang saat Natal. Penjualan meningkat, meski belum signifikan. Hingga akhirnya Imlek menjadi titik balik yang tak terduga. Akhir Januari 2026, mereka mulai memasarkan hampers Imlek, dibantu Instagram ads, respons pasar datang lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
Dalam waktu tiga minggu, penjualan menembus 3.500 cup, dengan lebih dari 400 kotak hampers terkirim ke pelanggan. Dari periode itu, omzet mereka akui kisaran Rp 30-40 juta. Namun di balik angka tersebut, ada kelelahan yang nyaris tak terhindarkan.
Awal Februari, dua pekan sebelum Imlek, mereka sudah menghentikan ads Instagram. “Tanggal 2 atau 3 Februari kita sudah stop iklan. Padahal Imlek-nya masih dua minggu lagi,” kata David. “Kita sudah panik.
Ternyata tanpa iklan pun pesanan tetap berdatangan. Selama dua minggu itu masih selalu ada yang tanya, padahal kita sudah tidak promosi sama sekali," katanya.
Menjelang mudik ke Banjarmasin, lima hari sebelum hari raya, mereka masih berjibaku di dapur, menuntaskan pesanan yang terus masuk. Meledaknya usaha bisnis yang bahkan belum genap setengah tahun waktu itu adalah kepercayaan customer terhadap produknya. David dan Merry menemukan satu pembeda yang justru menjadi kekuatan mereka yakni kemasan.
Merry betul-betul serius mengembangkan usahanya. Sebab berjualan es krim terlalu beresiko mengingat Samarinda adalah tempat yang hawanya lumayan panas. Es krim cukup menjual di Samarinda, tapi PR-nya bagaimana meyakinkan pelanggan bahwa produk mereka akan tetap aman sampai ketangan pelanggan.
Untuk itu, tiap pesanan dikemas dengan lapisan foil dan ice pack, menjaga suhu tetap stabil selama perjalanan, yang bahkan hingga luar kota. “Kami pernah kirim sampai Sangatta. Sampai sana, es krimnya masih berbentuk, masih bisa langsung dimakan setelah masuk freezer sebentar,” ujar Merry.
Bagi Merry, kemasan adalah bentuk komitmen “Orang mungkin tidak lihat dapur kami. Tapi mereka lihat packaging-nya. Dari situ mereka tahu kami serius," tegasnya.
Lonjakan Imlek menjadi titik balik. David, sarjana teknik yang hampir satu dekade bekerja di dunia konstruksi, akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya pada Februari 2026. Ia kini fokus penuh mengelola IceKlim dari produksi, hingga operasional booth yang baru dibuka di Big Mall Samarinda.
Merry, yang latar belakangnya akuntansi masih bertahan di perbankan sambil mengawasi keuangan usaha. Mereka juga mulai merekrut karyawan, dua orang untuk booth, dua orang lagi membantu di dapur.
Pada Ramadan ini, pelanggan IceKlim semakin beragam. Meski volume per transaksi tak sebesar Imlek, jumlah pelanggan baru terus bertambah. Best seller tak pernah berubah: cookies and cream selalu habis duluan, baik online maupun di booth.
Ke depan, David berharap IceKlim bisa hadir di lebih banyak titik di Samarinda, ia memproyeksikan ekspansi ke luar kota. Rasa baru akan terus ditambahkan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo