Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tak Lagi Andalkan Tambang, Desa Wisata Disiapkan Jadi Andalan Baru Ekonomi Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 31 Maret 2026 | 13:10 WIB

POTENSI: Desa wisata didorong jadi sumber ekonomi baru untuk menggantikan sektor ekstraktif yang selama ini jadi tulang punggung Kaltim.
POTENSI: Desa wisata didorong jadi sumber ekonomi baru untuk menggantikan sektor ekstraktif yang selama ini jadi tulang punggung Kaltim.
 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap sektor sumber daya alam (SDA) dinilai masih terlalu tinggi. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi daerah sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Untuk itu, Bank Indonesia (BI) mulai mendorong sektor alternatif, salah satunya pariwisata berbasis desa.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan asesmen untuk mencari potensi ekonomi baru di setiap daerah.

“Kira-kira potensi yang bisa dikembangkan di setiap daerah kami bekerja itu apa. Nah, kami melihat bahwa di Kaltim kan selama ini sangat tergantung pada sektor ekstraktif, sektor sumber daya alam,” ujarnya.

Menurutnya, ketergantungan itu berisiko tinggi. Saat harga komoditas seperti batu bara naik, ekonomi Kaltim ikut terdongkrak. Namun, ketika harga turun, dampaknya langsung terasa.

“Kalau misalnya batubara lagi tinggi, pertumbuhan ekonomi Kaltim aku naik ke atas tapi begitu kayak kemarin permintaan turun, otomatis ekonomi Kaltim juga ikut turun,” jelasnya saat acara Sinergi Pengembangan Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif di Desa Wisata Kampung Tenun Samarinda untuk Pariwisata Berkelanjutan, Selasa (31/3).

Dia mencontohkan kondisi di Kutai Timur yang sempat mengalami penurunan pertumbuhan signifikan akibat turunnya permintaan batu bara. Hal itu terjadi karena struktur ekonomi daerah tersebut didominasi sektor tambang hingga 70 persen.

Seiring dengan amanah baru dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI kini tidak hanya fokus pada moneter, inflasi, dan sistem pembayaran, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Nah, selanjutnya kita mencari alternatif pertumbuhan ekonomi baru seperti apa? Nah, salah satunya yang bisa kita dorong adalah di pariwisata. Lebih spesifik lagi apa? Desa wisata tentunya, termasuk Desa Wisata Kampung Tenun Samarinda,” terang Bayuadi.

Dia menambahkan, pengembangan desa wisata dimulai dari skala kecil sebagai embrio, kemudian dikembangkan menjadi destinasi yang lebih besar. Langkah tersebut dinilai realistis karena memanfaatkan potensi lokal yang sudah ada.

“Pariwisata ini modalnya enggak terlalu banyak gitu ya. Kita sudah punya modalnya tinggal kita kembangkan,” tegasnya.

Saat ini, kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim masih sekitar 5 persen. Artinya, peluang pengembangan sektor itu masih sangat terbuka lebar. Pihaknya berharap, ke depan struktur ekonomi Kaltim menjadi lebih seimbang. SDA tetap menjadi penopang, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pertumbuhan.

“Harapan kita adalah tetap di SDA, sumber daya alam tetap segitu tapi kita mencari alternatif pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya melalui pariwisata,” pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#Ekonomi Kaltim #bank indonesia #ekonomi kreatif #Kampung Tenun #kutai timur #desa wisata #samarinda #sumber daya alam #kalimantan timur #produk domestik regional bruto