Utama Samarinda Balikpapan IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan Kaltim

Ekraf Kaltim Tembus Rp 30 Triliun, Tenun Samarinda Disiapkan Naik Kelas

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 31 Maret 2026 | 13:25 WIB

MENYUMBANG: Ekonomi kreatif menyumbang 5,6 persen dari total perputaran uang di Kaltim.
MENYUMBANG: Ekonomi kreatif menyumbang 5,6 persen dari total perputaran uang di Kaltim.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sektor ekonomi kreatif (ekraf) di Kalimantan Timur menunjukkan tren positif dan mulai menjadi pilar baru transformasi ekonomi daerah. Nilai kontribusinya bahkan telah mencapai puluhan triliun rupiah.

Hal itu ditegaskan Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang III, Arief Murdiyatno, bahwa ekraf kini menyumbang sekitar 5,6 persen dari total perputaran ekonomi daerah. “Kontribusinya sudah mencapai sekitar Rp 30 triliun atau 5,6 persen dari total perputaran uang di Kaltim,” ujarnya.

Meski demikian, angka tersebut dinilai masih sangat potensial untuk terus dikembangkan. Apalagi sektor tersebut didominasi oleh subsektor kuliner, kriya, dan fashion.

“Artinya kalau dari menilai angka 5,6 persen ini masih berpeluang untuk dikembangkan ke depannya,” katanya di sela kegiatan Sinergi Pengembangan Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif di Desa Wisata Kampung Tenun Samarinda untuk Pariwisata Berkelanjutan, Selasa (31/3).

Salah satu fokus pengembangan adalah tenun sarung Samarinda yang masuk dalam kategori fesyen. Produk tersebut dinilai memiliki nilai budaya sekaligus peluang ekonomi tinggi.

Namun, tantangan masih ada. Salah satunya terkait ekspor produk ekonomi kreatif yang belum optimal. Saat ini, ekspor dari Kaltim masih didominasi komoditas turunan seperti kayu dan sabut kelapa.

Pemerintah pun mendorong penguatan ekosistem ekspor melalui layanan terpadu satu pintu di pelabuhan. Tujuannya agar proses ekspor lebih efisien dan mampu meningkatkan devisa daerah.

Selain itu, pengembangan ekraf juga harus diiringi peningkatan kapasitas produksi dan segmentasi pasar. Produk perlu dibagi dalam beberapa kelas agar bisa menjangkau berbagai kalangan.

“Nanti ada grade-nya. Jadi grade yang premium, grade yang sedang dan grade yang terjangkau oleh masyarakat,” jelas Arief.

Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pelaku usaha dalam mendukung UMKM agar naik kelas.

“Jadi ini kita tidak hanya memberikan kail tetapi juga mendampingi bagaimana kita mengedukasi dan memberikan literasi perbankan supaya UMKM ini melek terhadap perbankan,” pungkasnya.

Dengan strategi tersebut, ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi penopang baru ekonomi Kaltim, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor sumber daya alam. (*)

Editor : Duito Susanto
#Nilai Budaya #Ekonomi Kaltim #bank indonesia #ekonomi kreatif #tenun samarinda #otoritas jasa keuangan #kaltim #desa wisata