Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ises Rahayu Bercerita Lewat Batik Arit Lepo, Angkat Filosofi Dayak hingga Mendunia

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 5 April 2026 | 05:44 WIB
PULUHAN: Ada banyak motif batik yang Ises ciptakan. Sebagian besar bercerita tentang kebudayaan Dayak, arit lepo motif ciptaan pertamanya pun menjadi nama usahanya. (RORO/KP)
PULUHAN: Ada banyak motif batik yang Ises ciptakan. Sebagian besar bercerita tentang kebudayaan Dayak, arit lepo motif ciptaan pertamanya pun menjadi nama usahanya. (RORO/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setiap goresan dalam Batik Arit Lepo yang dibuat Ises Rahayu ternyata bukan sekadar motif. Tetapi narasi tentang identitas dan filosofi budaya Dayak yang diwariskan melalui kain.

Nama Arit Lepo memiliki makna mendalam. Ises menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Dayak Lundayeh. “Arit itu motif, Lepo itu ukiran yang biasa ada di dinding rumah, lumbung atau tiang penyambutan,” jelasnya.

Motif tersebut menjadi dasar dari karya-karyanya. Sebagai orang Dayak Lundayeh, dia ingin mengangkat ciri khas budaya yang dekat dengan kehidupannya.

Dari situ, dia mulai mengembangkan berbagai motif lain yang tetap berangkat dari cerita. Salah satunya Tenup Kancet yang terinspirasi dari dunia tari. “Saya bikin itu karena ada kegiatan tari, jadi terinspirasi dari properti penari Dayak,” katanya.

Baca Juga: Gudang Beras 1.000 Ton Bakal Dibangun di Kubar, Pemkab dan Bulog Tinjau Lahan di Ngenyan Asa

Motif lain yang dia kembangkan juga sarat makna simbolik. Dia mengangkat konsep kesejahteraan melalui elemen “guci” yang dikaitkan dengan tanah dan air. “Saya masukkan buti sebagai lambang kesejahteraan,” ungkapnya.

Karyanya terus berkembang hingga mengangkat tema lebih luas, seperti Tameng Nusantara yang memadukan berbagai simbol dari daerah di Indonesia. “Ada unsur Dayak, Irian, Ambon, sampai Majapahit dalam satu motif,” jelasnya.

Tak hanya itu, dia juga menghadirkan cerita rakyat dari wilayah Krayan dalam motif yang menggambarkan kehidupan di hutan dan gua. Menurut Ises, kekuatan utama batiknya terletak pada cerita yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

“Mereka lihat filosofinya, bukan cuma motifnya,” katanya. Dia bahkan pernah mendapat respons unik dari pelanggan yang langsung tertarik setelah mendengar cerita di balik kain tersebut. “Dia bilang, yang penting ada ceritanya, langsung ambil,” lanjutnya.

Baca Juga: BPBD Kaltim Petakan 3 Kabupaten Rawan Karhutla: Kukar, Kutim, dan Berau Masuk Zona Merah

Dari pengalaman itu, dia menyadari pentingnya nilai dalam sebuah produk. “Saya harus punya nilai yang berbeda, bukan sekadar kain,” ujarnya. Selain sebagai produk, batik juga dia jadikan media edukasi budaya. Dia ingin generasi muda memahami makna di balik motif, bukan sekadar melihat bentuknya.

Namun, dia juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman terhadap motif Dayak di masyarakat. “Ada yang bilang motif cumi-cumi, padahal itu bukan. Orang Dayak itu dekatnya dengan sungai, di sungai enggak ada cumi-cumi,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa motif Dayak memiliki filosofi keseimbangan dan keterhubungan antar elemen. “Motifnya harus seimbang, enggak boleh saling menginjak, itu melambangkan persaudaraan,” jelasnya.

Baginya, pemahaman tersebut penting agar budaya tidak disalahartikan. “Kita harus memperkenalkan yang benar,” tegasnya. Melalui Batik Arit Lepo, Ises berharap budaya Dayak semakin dikenal luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga hingga mancanegara. Batik karyanya bukan sekadar fesyen, tapi medium edukasi dan pelestarian budaya yang terus dikembangkan dari Sangatta untuk Indonesia bahkan dunia. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Ises Rahayu #Batik Arit Lepo #batik motif Dayak #wastra nusantara #pelestarian budaya