KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Wajah ekonomi masa depan Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, kini berada di genggaman jempol generasi muda. Di era yang serba terkoneksi, para pemuda tak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan aktor utama yang memegang kendali transformasi ekonomi berbasis digital.
Pesan kuat ini ditegaskan oleh Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, dalam gelaran Komunikasi Sosial Kreatif Kodam VI/Mulawarman, Rabu (8/4). Di depan ratusan anak muda, pria yang dijuluki "Sultan Andara" ini membedah bagaimana teknologi telah merombak cara kerja ekonomi secara fundamental.
“Sekarang semua orang punya kesempatan yang sama. Ada 190 juta pengguna media sosial di Indonesia. Ini pasar yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang itu untuk berkarya,” ujar Raffi dengan gaya bicaranya yang lugas.
Menurut Raffi, kemudahan akses informasi saat ini membuat anak muda tidak lagi harus bergantung pada sistem konvensional untuk mencari penghasilan. Namun, di balik gemerlap dunia digital, tersimpan tantangan mental yang tak main-main.
Paparan kritik pedas hingga komentar negatif di kolom komentar maupun Direct Message (DM) menjadi "makanan" sehari-hari yang bisa meruntuhkan semangat jika tidak dihadapi dengan bijak.
“Sekarang orang bisa langsung kritik, langsung kasih komentar pedas. Maka dari itu, mental itu penting. Jangan mudah tumbang hanya karena komentar netizen,” tuturnya menyemangati.
Menariknya, Raffi tidak hanya bicara soal teknis mencari cuan di dunia maya. Ia menyelipkan pesan mendalam tentang karakter. Baginya, kesuksesan finansial tanpa dibarengi etika adalah hal yang semu.
Baca Juga: Prabowo Umumkan Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta Meski Harga Avtur Naik, Ini Rinciannya
“Sekolah setinggi-tingginya boleh, cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa adab, sopan santun, dan cara menghargai orang lain. Itulah kunci sukses yang sebenarnya,” tegas ayah dua anak tersebut.
Potensi anak muda di Kalimantan Timur pun dinilai sangat seksi. Keberagaman budaya lokal yang dimiliki Bumi Etam adalah modal besar yang bisa diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi di kancah nasional maupun global.
Melalui penguatan kapasitas dan mentalitas ini, ekonomi kreatif diharapkan bukan hanya menjadi tren sesaat, melainkan solusi nyata untuk menekan angka pengangguran sekaligus mendongkrak daya saing daerah di masa depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo