KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran mulai berdampak serius pada sektor energi global. Dua raksasa migas asal AS, ExxonMobil dan Chevron, melaporkan penurunan produksi serta tekanan finansial besar akibat terganggunya operasi di kawasan Timur Tengah.
Dalam laporan terbarunya, kedua perusahaan mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik, termasuk gangguan distribusi di Selat Hormuz, memicu volatilitas pasar energi global.
Baca Juga: Islamabad Lockdown Jelang Negosiasi Iran vs AS: Keamanan Super Ketat, Jalan Ditutup Total
Kondisi ini turut mengganggu aset-aset yang terhubung dengan kepentingan Barat di wilayah tersebut.
ExxonMobil memperkirakan potensi kehilangan pendapatan hingga USD6,5 miliar atau sekitar Rp103 triliun.
Selain itu, produksi minyak dan gas perusahaan pada kuartal I/2026 diprediksi turun sekitar 6 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan ini dipicu oleh serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Uni Emirat Arab.
Beberapa infrastruktur penting, seperti fasilitas LNG di Qatar, dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah sehingga menghambat produksi.
Sementara itu, tekanan serupa juga dirasakan Chevron yang menghadapi tantangan operasional akibat meningkatnya risiko keamanan dan terganggunya rantai pasok energi.
Baca Juga: Geger di Ponpes Assaadah Sukabumi, Santri Gantung Diri di Kamar Asrama
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan krisis energi global yang berpotensi berkepanjangan, seiring belum pastinya penyelesaian konflik di kawasan tersebut.
Para analis menilai, jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan migas, tetapi juga dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Editor : Uways Alqadrie