Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Waspada Kemarau Panjang Mei 2026! Harga Pangan di Kaltim Terancam Meroket, Ini Langkah BI

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 12 April 2026 | 20:35 WIB
BERSIAP: Musim kemarau panjang yang diprediksi mulai Mei 2026 berpotensi menekan produksi pangan di daerah sentra, sehingga dapat memicu kenaikan harga komoditas strategis.
BERSIAP: Musim kemarau panjang yang diprediksi mulai Mei 2026 berpotensi menekan produksi pangan di daerah sentra, sehingga dapat memicu kenaikan harga komoditas strategis.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tekanan inflasi di Kaltim diperkirakan masih akan berlanjut seiring berbagai risiko yang mulai muncul. Salah satu yang paling diwaspadai adalah potensi musim kemarau panjang yang diprediksi mulai Mei 2026 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan di daerah sentra, sehingga dapat memicu kenaikan harga komoditas strategis. Di sisi lain, risiko cuaca ekstrem pada April, termasuk gelombang laut tinggi, juga dapat mengganggu distribusi pangan dan hasil laut.

Selain faktor cuaca, persoalan struktural seperti alih fungsi lahan dan rendahnya produksi pangan lokal turut menjadi tantangan. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar Kalimantan membuat harga sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah asal.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menekankan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menghadapi risiko ini. “Melalui TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah, Red), kami terus memperkuat strategi 4K, yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” jelasnya, akhir pekan lalu.

Baca Juga: Tembus 672 Pelaku Usaha, Ekonomi Kreatif Balikpapan Siap Geser Dominasi Sektor Migas?

Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk pelaksanaan pasar murah, gerakan pangan murah, hingga koordinasi lintas sektor menjelang Idul Fitri. Program ini terbukti mampu menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan.

Di sisi lain, meningkatnya optimisme konsumen juga menjadi faktor penting. Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di level optimis menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat, yang sekaligus menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Dengan berbagai tantangan yang ada, penguatan sektor pangan lokal dan efisiensi distribusi menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi daerah ke depan. "Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga mendorong program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target nasional 2,5 persen ±1 persen pada 2026," tuturnya.

Adapun Balikpapan pada Maret 2026 mencatatkan inflasi sebesar 0,51 persen secara bulanan (month to month/mtm), melandai dibandingkan Februari. Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 2,95 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,48 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,40 persen.

Baca Juga: Kaltim "Rumah Besar" Beragam Suku dan Budaya, FPK Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas

Sementara Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi sebesar 1,09 persen (mtm) pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan Balikpapan. Secara tahunan, inflasi PPU mencapai 3,02 persen, namun masih lebih rendah dari angka nasional. Kenaikan inflasi di wilayah ini terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang andil hingga 1,00 persen.

Komoditas seperti ikan tongkol, cabai rawit, terong, semangka, dan tomat menjadi pendorong utama. "Terbatasnya pasokan ikan akibat cuaca buruk menjadi salah satu faktor utama," sebut Robi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Risiko Cuaca #kemarau panjang #bank indonesia #harga pangan #inflasi Balikpapan