KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Peta perdagangan luar negeri Balikpapan mengalami pergeseran menarik pada Februari 2026. Tak lagi hanya bergantung pada mitra lama, lonjakan permintaan dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Singapura sukses menjadi mesin penggerak baru yang mendongkrak kinerja ekspor Kota Minyak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat lonjakan ekspor ke Uni Emirat Arab menjadi yang paling fantastis secara bulanan. Nilainya melesat sebesar USD 18,26 juta atau meroket hingga 560,86 persen. Tak mau ketinggalan, Singapura juga menunjukkan syahwat impor yang tinggi dengan peningkatan USD 31,07 juta atau tumbuh 179,48 persen.
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menyebut dinamika ini sebagai sinyal positif adanya peluang pasar baru. "Kenaikan ekspor ke UEA dan Singapura menjadi faktor utama pertumbuhan ekspor Februari. Ini menandakan diversifikasi tujuan ekspor mulai membuahkan hasil," ujar Marinda.
Baca Juga: Bukan Lagi Tambang, Sektor Pengolahan Jadi Penyelamat Ekspor Balikpapan di Awal 2026
Secara akumulatif, total ekspor Balikpapan pada Februari 2026 mencapai USD 536,31 juta, naik 4,76 persen dibanding Januari. Tiongkok memang masih kokoh sebagai negara tujuan utama dengan kontribusi 38,90 persen atau senilai USD 208,62 juta. Namun, kemunculan kekuatan pasar baru di Timur Tengah dan Asia Tenggara memberikan keseimbangan baru.
Meski demikian, Marinda memberikan catatan pada beberapa pasar yang justru lesu. Ekspor ke Pakistan ambruk hingga 94,81 persen, disusul Bangladesh yang merosot 48,15 persen. Filipina dan India pun tak luput dari kontraksi, masing-masing turun 35,02 persen dan 27,23 persen.
"Fluktuasi ini wajar dalam perdagangan global. Namun, ini jadi pengingat penting bagi pelaku usaha agar tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang. Diversifikasi pasar adalah kunci stabilitas," tegasnya.
Baca Juga: Balikpapan Jadi Panggung Dunia! Ratusan Penari dari 7 Negara Siap Guncang Dome
Dengan tren ini, Balikpapan kini memiliki peluang emas untuk memperluas jaringan perdagangan global, terutama menyasar kawasan Timur Tengah yang mulai menunjukkan ketergantungan pada produk-produk dari Kalimantan Timur. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo