Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Samarinda Kuasai 48 Persen Transaksi QRIS Kaltim, Nilainya Tembus Rp 1,3 Triliun!

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 17 April 2026 | 18:14 WIB
TERBESAR: Kota Tepian duduki peringkat atas sebagai daerah dengan nilai transaksi QRIS terbesar se-Kaltim. (RORO/KP)
TERBESAR: Kota Samarinda menduduki peringkat atas sebagai daerah dengan nilai transaksi QRIS terbesar se-Kaltim. (RORO/KP)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Peta transaksi digital di Kalimantan Timur menunjukkan dominasi kuat Samarinda. Ibu kota provinsi menjadi pusat utama penggunaan QRIS, mengungguli daerah lain dalam nilai transaksi. Pada Februari 2026, transaksi QRIS terbesar berada di Kota Tepian dengan pangsa mencapai 48 persen dari total transaksi di Kaltim. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Agus Taufik, menyebut tingginya kontribusi Samarinda menunjukkan peran strategis kota tersebut dalam mendorong digitalisasi pembayaran.

Selain Samarinda, Balikpapan menempati posisi kedua dengan pangsa 27 persen. Disusul Kutai Kartanegara yang menyumbang 6 persen terhadap total transaksi QRIS di Kaltim. “Jika dilihat lebih rinci, nilai transaksi QRIS di Samarinda mencapai Rp1,3 triliun. Di sisi lain, penggunaan uang elektronik di kota ini tercatat Rp255 miliar, sementara transaksi APMK mencapai Rp3,21 triliun,” papar Agus.

Di Balikpapan, transaksi QRIS tercatat Rp648 miliar, dengan uang elektronik Rp279 miliar dan APMK Rp3,1 triliun. Agus menjelaskan bahwa dominasi kota-kota besar tidak terlepas dari tingginya aktivitas ekonomi serta penetrasi digital yang lebih cepat dibandingkan wilayah lain.

Baca Juga: Transaksi QRIS di Kaltim Melejit 133 Persen, Ini Pemicu Utamanya

“Distribusi transaksi menunjukkan bahwa pusat ekonomi daerah menjadi penggerak utama digitalisasi sistem pembayaran,” jelasnya. Namun demikian, pertumbuhan juga mulai terlihat di daerah lain. Kutai Timur mencatat peningkatan signifikan pada transaksi QRIS, begitu pula Mahakam Ulu yang menunjukkan lonjakan meski dari basis yang lebih kecil.

Di sisi lain, beberapa wilayah masih mencatat penurunan pada transaksi berbasis kartu, menandakan pergeseran ke metode pembayaran digital yang lebih fleksibel. Agus menambahkan bahwa pemerataan digitalisasi menjadi fokus ke depan, agar seluruh kabupaten/kota dapat merasakan manfaat yang sama.

“Penguatan ekosistem pembayaran digital akan terus didorong agar inklusi keuangan semakin merata,” tegasnya. Dengan dominasi Samarinda dan pertumbuhan di daerah lain, lanskap transaksi digital di Kaltim menunjukkan arah yang semakin inklusif, meski masih terpusat di kota-kota besar. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Transaksi QRIS #samarinda #Bank Indonesia Kaltim