KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kuala Samboja bersiap memasuki babak baru. Ini setelah mereka menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) II 2026 di Ballroom Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4).
Selain memilih ketua baru, ajang ini diharapkan bisa memperkuat solidaritas para perusahaan dan melahirkan program terbaik agar aktivitas ekonomi di Samboja terus bergeliat.
Ketua APBMI Kuala Samboja Loies Subowo Saminanto mengatakan, kepengurusannya berakhir Minggu (19/4) kemarin. Sehingga pihaknya bergegas untuk menggelar Muscab agar tidak ada kekosongan di kursi pimpinan APBMI Kuala Samboja dalam waktu yang lama. Supaya kegiatan kepelabuhanan di sana terus berjalan maksimal dan permasalahan yang ada bisa diatasi.
Dia bercerita, asosiasi ini telah menjalani perjalanan yang berliku. Berdiri pada medio 2006, pamor APBMI Kuala Samboja baru muncul sekitar 2019. Ketika di bawah komandonya berhasil menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholders terkait dan membuka layanan ship to ship (STS). “Sebelum tahun 2019, kapal yang berlabuh di Kuala Samboja masih sedikit karena masih berstatus terminal khusus batu bara,” kenangnya.
Baca Juga: Harga Pertalite Eceran di Muara Wahau Tembus Rp 30 Ribu Per Liter, Warga Antre Berjam-jam di SPBU
Nah, pada September 2019 sejarah diukir seiring berlabuhnya kapal Vessel MV Antoine untuk menikmati layanan STS. Sejak saat itu, hilir mudik kapal Vessel makin ramai. Kini, setiap bulannya ada sekitar 70 kapal Vessel yang mereka layani.
“Awalnya saya juga masih ragu. Karena saya sendiri sebagai perusahaan bongkar muat belum pernah melakukan. Sementara TKBM (tenaga kerja bongkar muat, Red) juga belum pernah melayani. Sama-sama belum pernah. Tapi Alhamdulillah, selama lima hari kami kerjakan dan aktivitas bongkar muat berjalan lancar,” bebernya.
Seiring perkembangan usaha, ujian yang dihadapi juga beragam. Seperti adanya laporan ke pihak kepolisian terkait tarif yang ditetapkan para perusahaan bongkar muat dinilai ilegal. Namun semua dijalani bersama dan berhasil dilewati. Termasuk permintaan penutupan layanan oleh DPRD di zaman pandemi Covid-19.
Kini, APBMI Kuala Samboja terus berkembang. Dan yang paling membanggakan adalah hadirnya perusahaan-perusahaan bongkar muat baru yang didirikan masyarakat sekitar. Dari total 50 perusahaan yang bernaung di bawah APBMI Kuala Samboja, 60 persennya merupakan perusahaan lokal.
Baca Juga: Tak Hanya Plastik dan BBM, Harga LPG Pink Ikut Melonjak per April 2026! Cek Harga Terbaru
“Ini pencapaian luar biasa. Artinya kegiatan ekonomi di sini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Termasuk dari perekrutan tenaga kerjanya,” sebut Loies. Apalagi Samboja atau Kutai Kartanegara tercatat sebagai salah satu daerah yang kaya hasil buminya. Selain batu bara ada kayu, kelapa sawit hingga minyak dan gas bumi (migas).
Ke depan, dia berharap pembangunan Pelabuhan Amborawang bisa segera terealisasi agar aktivitas yang dilakukan semakin tinggi dan berdampak bagi perekonomian daerah. Digadang-gadang pelabuhan ini akan melayani kegiatan ekspor-impor seperti Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal di Balikpapan.
Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) APBMI Capt. Albretus JD Korompis mengapresiasi kepengurusan Loies Subowo Saminanto yang aktif menjalin komunikasi dengan pusat dan berjuang keras menjaga soliditas para anggota. Dia berharap ketua terpilih nantinya bisa melanjutkan kinerja baik tersebut. “Siapapun yang terpilih nanti harus mau memberikan waktu, pikiran dan tenaga untuk kesejahteraan para anggota,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Balai Karantina Kesehatan Balikpapan dr Bangun Cahyo Utomo. Menurutnya, selama ini kerja sama yang dijalin sangat bagus. Seperti rutinitas pemeriksaan HIV dan TBC kepada para pekerja di TKBM. Hal ini penting dilakukan karena pelabuhan menjadi salah satu pintu gerbang penyaluran penyakit.
“Sehingga harus selalu dilakukan pengawasan untuk menjaga kesehatan para pekerja dan masyarakat umum. Ada beberapa temuan dan sudah ditindaklanjuti untuk menekan faktor risiko penularan. Semoga aktivitas di Kuala Samboja terus berjalan dan roda perekonomian di sekitar terus bertumbuh,” harapnya.
Baca Juga: Cek Harga Perak Antam Terbaru 20 April 2026: Turun Tajam Usai Akhir Pekan yang Manis
Hasrun dari Pengurus Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim juga memberi dukungan kepada APBMI Kuala Samboja untuk terus berkembang. Sebab aktivitas mereka sangat bergantung dengan pelayanan pelabuhan. “Selama ini masih banyak produk kita yang diekspor masih melewati Surabaya. Kami berharap ke depan kita tidak perlu ke sana lagi tapi cukup dari Samboja saja,” ujarnya.
Hal ini cukup beralasan, mengingat adanya beban biaya logistik jika pengiriman terus-terusan melewati Surabaya. Tentu jika lewat Samboja, harga produk akan lebih kompetitif dan menguntungkan. Ditambah dengan kondisi saat ini kondisi global masih rentan terdampak konflik di Timur Tengah. Biaya logistik semakin besar karena harga minyak terus melambung.
Analis Angkutan Laut Dinas Perhubungan Kaltim Lusy Aulia Sihombing berpesan, para perusahaan bongkar muat harus terus meningkatkan kualitas para pekerjanya. Apalagi di tengah masifnya perkembangan teknologi.
“Saat ini ada beberapa peraturan baru yang menuntut perusahaan menyediakan tenaga ahli dan administrasi. Jadi tolong ditingkatkan lagi kualitas kompetensi karyawannya,” tutupnya sekaligus membuka Muscab. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo