KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Semangat Hari Kartini tidak hanya dimaknai sebagai peringatan historis, tetapi juga relevan dalam dunia bisnis modern. Bagi pengusaha perempuan, nilai-nilai Kartini justru menjadi fondasi penting untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang kian kompetitif.
Pengusaha perempuan, Indah Purwanti, menilai Kartini adalah simbol keberanian berpikir berbeda dan melawan keterbatasan sosial pada zamannya. Spirit itu, menurutnya, sangat selaras dengan tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia usaha saat ini.
“Dalam bisnis pun sama, perempuan harus berani keluar dari zona nyaman, berinovasi, dan tidak tunduk pada aturan lama yang menghambat kemajuan,” ujar perempuan yang menjalankan usaha media, jasa, coffee shop dan toko oleh-oleh tersebut.
Indah menegaskan bahwa salah satu nilai utama yang diwariskan Kartini adalah pentingnya pendidikan. Dalam konteks bisnis, hal itu berarti kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar mampu bertahan di pasar yang kompetitif.
Baca Juga: Midtown Hotels Indonesia Hidupkan Semangat Kartini dengan Perkuat Pemberdayaan Perempuan
“Pendidikan di sini bukan hanya formal, tapi bagaimana kita terus belajar, meningkatkan mindset, dan beradaptasi dengan perubahan,” jelasnya.
Lebih jauh, dia menilai bisnis saat ini tidak lagi sekadar berbicara soal keuntungan. Ada dimensi lain yang semakin penting, yakni kontribusi terhadap masyarakat.
“Semangat Kartini bagi pengusaha perempuan itu tentang keberanian, pembelajaran, inklusivitas, dan dampak sosial. Sekarang bisnis juga dinilai dari kontribusinya, bukan hanya profit,” tegas Indah.
Menurutnya, kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dia merasakan bahwa peluang bagi perempuan dan laki-laki dalam dunia usaha kini semakin setara.
Baca Juga: Warga Kubar Menjerit: BBM Non Subsidi Naik, Harga Biosolar di Pengecer Tembus Rp 18 Ribu
“Sekitar 80 persen sudah terasa setara. Teman-teman pengusaha sekarang tidak lagi memandang latar belakang, yang penting punya peluang yang adil untuk memulai, berkembang, dan bersaing,” ungkapnya.
Indah juga melihat tidak ada lagi diskriminasi yang signifikan, khususnya terkait gender. Kompetisi usaha, baik skala kecil maupun besar, dinilai berjalan sehat dan memberikan ruang yang sama untuk berkembang.
“Kesempatan untuk tumbuh itu sama, tinggal bagaimana manajemen usaha kita. Bahkan peluang mendapatkan investor juga sama,” tambahnya.
Dia pun optimistis bahwa perempuan memiliki keunggulan tersendiri dalam membaca peluang pasar. Kepekaan terhadap kebutuhan, terutama di sektor keluarga, pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup, menjadi nilai tambah yang bisa dimaksimalkan.
Dengan kondisi yang semakin inklusif, Indah menilai perempuan memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan mengambil peran strategis dalam perekonomian. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo