KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dinamika ekonomi di Kota Minyak tengah menunjukkan fenomena menarik sekaligus perlu dicermati. Data terbaru angkutan udara per Februari 2026 mengungkapkan adanya ketimpangan yang cukup signifikan antara arus penumpang yang datang dan berangkat melalui pintu udara Balikpapan.
Secara domestik, Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menyebut, jumlah penumpang datang masih lebih tinggi dibandingkan yang berangkat, yakni 166.476 orang berbanding 136.136 orang. Namun, penurunan pada sisi kedatangan justru lebih dalam, mencapai 25,37 persen dibandingkan Januari 2026.
Ia berujar, kondisi ini menunjukkan adanya perlambatan arus masuk ke kota, baik untuk keperluan bisnis maupun kunjungan lainnya. “Ketika jumlah penumpang datang turun lebih tajam dibandingkan yang berangkat, ini bisa mengindikasikan berkurangnya aktivitas ekonomi yang menarik orang untuk datang ke Balikpapan,” tuturnya.
Sementara itu, pada penerbangan internasional, komposisi antara datang dan berangkat relatif seimbang, meski keduanya mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas global masih belum pulih sepenuhnya.
Marinda menambahkan, pola ini juga bisa berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat dan pelaku usaha. “Saat kondisi ekonomi penuh ketidakpastian, pelaku usaha cenderung mengurangi perjalanan bisnis, sementara masyarakat menahan perjalanan konsumtif,” jelasnya.
Fenomena ini turut berdampak pada sektor pendukung seperti transportasi darat dan logistik. Penurunan arus penumpang datang berpotensi mengurangi permintaan terhadap layanan tersebut.
Namun demikian, Marinda menegaskan bahwa Balikpapan masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat. “Kita tetap optimistis, terutama dengan adanya proyek strategis nasional seperti IKN. Yang penting adalah menjaga momentum dan memastikan konektivitas tetap terjaga,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo