KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tidak semua usaha lahir dari rencana besar. Hi Mom & Baby, toko perlengkapan ibu dan anak di Samarinda, justru bermula dari langkah sederhana. Membantu menjual stok pakaian bayi milik keluarga. Dari situ, owner Hi Mom & Baby Yunika Sawitri menemukan peluang, lalu membangunnya perlahan dengan gaya serba autodidak.
Perempuan yang karib disapa Ika itu bercerita, bakat jualan sebenarnya sudah ada sejak kecil. Dia tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan aktivitas berdagang. Sejak SD, dia sudah terbiasa membawa katalog usaha milik ibunya, menjual barang kecil, hingga menawarkan produk ke teman-teman sekolah.
“Dari SD sih. Terus ke SMP, SMA juga. Jualan pulsa, apa saja yang dijual. Saya memang suka kalau ada orang beli, suka ngobrol, suka interaksi,” ujarnya lalu terkekeh. Namun, usaha yang kini berkembang itu tidak langsung dirancang sebagai bisnis besar.
Titik awalnya terjadi pada 2020 saat Ika tinggal di rumah mertua. Dia melihat kakak iparnya memiliki stok pakaian bayi yang menumpuk di gudang, tetapi tidak terjual optimal karena sambil bekerja. “Saya lihat di gudang kok banyak baju-baju bayi. Saya kaget. Ternyata itu jualan, tapi kurang laku karena enggak ke-handle,” katanya.
Baca Juga: Belajar Sambil Jalan, Pasangan Ini Kembangkan Usaha hingga Dilirik Brand Nasional
Dari situ, Ika menawarkan diri membantu menjual lewat Instagram. Saat itu dia masih bekerja di RS Abdul Wahab Sjahranie, tepatnya di bagian kebidanan ibu dan anak. Meski dekat dengan dunia ibu dan bayi secara pekerjaan, dia mengaku belum paham soal produk bayi karena saat itu belum memiliki anak.
Respons pasar ternyata di luar dugaan. Dalam tiga hari usai dinas malam, Ika sibuk melayani pesanan sampai hampir tidak tidur. Dari situ, keluarga melihat potensi besar dan akhirnya menyerahkan pengelolaan usaha tersebut kepadanya. Langkah berikutnya benar-benar dimulai dari nol.
Dia mengubah identitas akun, menentukan nama toko, hingga membuat logo sendiri hanya lewat ponsel. Semua dikerjakan tanpa bantuan konsultan, mentor bisnis, maupun jasa profesional. “Logonya saya gambar sendiri lewat HP. Betul-betul autodidak, belajar dari nol,” ungkapnya.
Bukan cuma identitas brand, konsep toko juga dibangun dengan pendekatan serba mandiri. Dia dan suami, Mohamad Diponegoro, mengaku merancang sendiri tampilan toko yang bersih, nyaman, dan estetik. Mencari referensi, menggambar konsep, lalu memilih vendor satu per satu sesuai kemampuan modal yang dimiliki.
Baca Juga: Gadget Bikin Anak Anteng, Tapi Diam-Diam Gerus Minat Baca, Ini Kata Psikolog
“Orang datang pasti mengira pakai jasa interior. Padahal enggak, kami cari referensi sendiri, cari vendor sendiri,” kata ucap alumnus Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Kaltim tersebut.
Hal yang sama berlaku dalam urusan marketing. Dia tidak belajar teori promosi secara formal, melainkan mengandalkan pengalaman. Strategi diskon, promo, hingga penyebaran informasi dari teman ke teman tumbuh secara organik. “Semua berjalan berdasarkan pengalaman saja. Enggak ngerti teori marketing, ya dijalani saja,” tuturnya lalu tersenyum.
Pola itu justru menjadi kekuatan tokonya. Dari promosi mulut ke mulut, usaha itu tumbuh dan semakin dikenal. “Penginnya pas orang datang, ngelihat barangnya bagus, harganya bersaing, vibes-nya enak, bersih, nyaman. Jangan sampai mengecewakan,” tegasnya.
Bagi ibu satu anak tersebut, Hi Mom & Baby bukan sekadar toko. Merupakan hasil dari proses panjang belajar, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Dari logo hingga desain toko, dari cara melayani pelanggan sampai memilih brand, semuanya dibangun lewat pengalaman. Dan justru dari situlah karakternya terbentuk. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo