Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kisah Ekspedisi BI Hadirkan Uang Layak hingga Pesisir Kalimantan, Menyusuri Sungai, Membelah Ombak demi Jaga Marwah Rupiah

Ajie Chandra • Rabu, 29 April 2026 | 18:40 WIB
ANTUSIAS: Perwakilan BI bersama Bankaltimtara membuka layanan penukaran uang di kantor pembantu bank di Desa Tanjung Aru. Warga berdatangan membawa uang lusuh untuk ditukar, sebagian lagi ingin mendapatkan pecahan kecil untuk jual beli.
ANTUSIAS: Perwakilan BI bersama Bankaltimtara membuka layanan penukaran uang di kantor pembantu bank di Desa Tanjung Aru. Warga berdatangan membawa uang lusuh untuk ditukar, sebagian lagi ingin mendapatkan pecahan kecil untuk jual beli.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Desa Tanjung Aru, Kabupaten Paser secara geografis berada di tepi peta, di mana akses darat masih jadi barang mewah. Di sana, Rupiah sering kali bertahan dalam kondisi lusuh, kumal dan tak jarang sobek karena terlalu sering berpindah tangan. Bagi tim Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, jarak bukan halangan melainkan jembatan untuk menghadirkan keadilan finansial.

Perjalanan itu dimulai dari dermaga Balikpapan, Senin (27/4) pagi, saat matahari belum terlalu tinggi. Sebuah kapal patroli milik TNI AL, Patkamla Posa, perlahan meninggalkan pelabuhan, membelah Selat Balikpapan menuju selatan. Di atasnya, bukan sekadar rombongan biasa, melainkan misi memastikan rupiah tetap hadir, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau.

Selama kurang lebih tiga jam, tim Kantor Perwakilan BI Balikpapan menyusuri perairan menuju Desa Tanjung Aru. Ombak, angin laut dan jarak tak lagi menjadi penghalang. Di sana, masyarakat telah menunggu. Inilah bagian dari Ekspedisi Rupiah Kalimantan (ERK) 2026, program Bank Indonesia yang digelar serentak pada 27–30 April di seluruh Kalimantan.

Baca Juga: Ini yang Diminta DPRD Samarinda Terkait Penegasan Aturan Jam Operasional Truk Besar dan Aturan Tempat Pergudangan

Program ini bukan sekadar distribusi uang, melainkan upaya menjaga kedaulatan rupiah sekaligus memastikan keadilan akses layanan keuangan bagi seluruh masyarakat. Kepala BI Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menegaskan, pentingnya kehadiran negara hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).

“Kami memastikan masyarakat di wilayah 3T tetap memperoleh akses terhadap uang rupiah yang layak edar, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah,” ujarnya.

Melalui jalur sungai, yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Kalimantan, BI menjangkau titik-titik strategis seperti Sungai Mahakam, Barito, Kandilo, hingga Sambas Besar. Jalur air menjadi “jalan utama” bagi ekonomi warga pesisir yang selama ini minim akses terhadap layanan keuangan formal.

Di Tanjung Aru, aktivitas langsung terasa hidup. Tiga perwakilan BI bersama Bankaltimtara membuka layanan penukaran uang di kantor pembantu bank setempat. Warga berdatangan, sebagian membawa uang lusuh yang selama ini mereka simpan, sebagian lagi ingin mendapatkan pecahan kecil untuk aktivitas jual beli.

Baca Juga: Otw Amerika! Dua Bintang Basket SMA 1 Bontang Tembus DBL Camp Nasional, Siap Harumkan Nama Kota Taman

Firmansyah, salah satu warga, menukar uang sekitar Rp2,1 juta menjadi pecahan kecil. “Untuk keperluan toko. Kalau dapat uang baru, pasti senang. Apalagi memudahkan jualan,” ujarnya dengan senyum.

Hari berikutnya, layanan bergeser ke Pasir Mayang, desa pesisir lain yang sedikit lebih dekat dari pusat Kabupaten Paser. Antusiasme tak berkurang. Iba, seorang penjual pentol, ikut menukar uangnya. “Saya butuh pecahan kecil untuk jualan sehari-hari. Ini sangat membantu,” katanya.

Di balik transaksi sederhana itu, tersimpan makna besar, perputaran ekonomi lokal menjadi lebih lancar. Uang layak edar bukan sekadar alat tukar, tetapi juga penggerak aktivitas ekonomi masyarakat kecil.

Tak hanya membawa uang tunai, BI juga membawa edukasi. Melalui program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, masyarakat diajak mengenali keaslian uang, merawat rupiah, hingga memahami pentingnya transaksi non-tunai. Sosialisasi QRIS dan perlindungan konsumen (PeKA) juga diperkenalkan, membuka jalan menuju inklusi keuangan digital, even di wilayah terpencil.

Untuk wilayah kerja Balikpapan, BI menyiapkan dana sebesar Rp1 miliar dalam ekspedisi ini. Jumlah tersebut disalurkan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat di titik-titik layanan.

Dalam pelaksanaannya, BI tidak berjalan sendiri. TNI Angkatan Laut turut menjadi garda penting dalam distribusi dan pengamanan. Komandan Lanal Balikpapan, Topan Agung Yuwono, menegaskan dukungan penuh pihaknya. “Kami mendukung sebagai bagian dari menjaga rupiah sebagai simbol kedaulatan negara sekaligus memperkuat pelayanan publik bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Baca Juga: Cegah Keracunan! Tim Food Safety Polda Kaltim Sidak Dapur SPPG Stalkuda, Ini Hasilnya

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak hanya dilakukan di ruang rapat atau pusat kota, tetapi juga di sungai-sungai, desa pesisir, dan wilayah yang jauh dari hiruk pikuk urban.

Ekspedisi Rupiah Kalimantan bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan makna tentang kehadiran negara, tentang kepercayaan, dan tentang memastikan bahwa setiap lembar rupiah yang beredar tetap layak, dipercaya, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen terus memperluas jangkauan layanan ini. Sebab di negeri kepulauan seperti Indonesia, menjaga rupiah berarti juga menjaga persatuan, dari kota hingga pelosok, dari darat hingga sungai. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#CBP Rupiah #Ekspedisi Rupiah Kalimantan #TNI AL Balikpapan #Penukaran Uang Layak Edar #Bank Indonesia Balikpapan