KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kondisi ekonomi sejumlah pedagang di Pasar Penampungan A, kawasan Pasar Inpres Kebun Sayur, Balikpapan mengalami tekanan hebat. Sebagian besar mengeluhkan penurunan penjualan yang berdampak langsung pada kemampuan mereka memenuhi kewajiban, termasuk pembayaran retribusi pasar.
Di tengah sepinya pembeli, sebagian pedagang mengaku kesulitan menjaga arus kas harian. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya harus menunda pembayaran retribusi atau mencicilnya melalui pinjaman koperasi.
Salah satu pedagang, Hastuti, yang telah berjualan perlengkapan safety selama satu tahun empat bulan, menggambarkan kondisi yang kian berat. Ia menjual berbagai kebutuhan mulai sepatu hingga perlengkapan keselamatan kerja dengan harga bervariasi, dari Rp 5 ribu hingga Rp 2 juta. Namun, tingginya variasi harga tidak menjamin adanya transaksi.
“Ya mbak, seminggu ini sudah tidak ada yang beli. Paling pelanggan ada satu atau dua orang sebelum seminggu ini. Itu pun belanja Rp 300 ribu, yang murni kami dapat cuma Rp 45 ribu. Belum buat bensin, uang yang didapat mau nggak mau buat keluarga, yang penting anak bisa makan,” ungkap Hastuti, Rabu (29/4).
Sebagai ibu dari lima anak, Hastuti menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ia membuka lapak sejak pukul 07.00 Wita hingga selepas magrib. Dengan biaya sewa dua petak kios mencapai Rp 700 ribu, tekanan ekonomi semakin terasa, terlebih ketika dalam satu minggu ia mengaku belum mendapatkan penjualan sama sekali.
Hastuti juga mengungkapkan bahwa salah satu rekannya bahkan terpaksa menutup usaha salon akibat lilitan utang yang tidak lagi mampu dibayar. "Ekonomi semakin nggak pasti mbak, bahkan kami juga harus membawa bekal dari rumah supaya hemat tidak membeli makanan di pasar. Sekarang sepi beda sama tahun lalu," tuturnya.
Baca Juga: Jalur Ikonik dan Spot Eksotis, Touring Spot MAXI Tour Boemi Sumatra Utara
Kondisi serupa juga dialami pedagang lain, Hariani. Ia mengaku kebingungan menghadapi minimnya pembeli, sementara kebutuhan rumah tangga tidak bisa ditunda. Dalam situasi terdesak, berutang menjadi satu-satunya pilihan agar dapur tetap mengepul.
"Untung-untungan, kalau dulu orang bisa berbelanja sampai Rp 500 ribu, sekarang buat belanja Rp 200 ribu aja sudah jarang. Nah, kalau pun butuh barang lain yang emang enggak kami jual itu saya ambil di teman, paling untungnya cuma Rp 2 ribu atau Rp 5 ribu," ujarnya.
Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, pinjaman koperasi juga digunakan untuk membayar retribusi pasar secara bertahap. "Mau nggak mau terpaksa nyicil," timpalnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo