KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih mengalami inflasi sebesar 0,33 persen secara bulanan pada April 2026. Meski demikian, angka tersebut sudah jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 1,09 persen.
Melandainya inflasi menunjukkan tekanan harga mulai berkurang meskipun sejumlah komoditas pangan strategis masih mengalami kenaikan.
Secara tahunan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menuturkan, inflasi PPU berada di level 2,10 persen dan masih terkendali dalam target inflasi nasional tahun 2026. Bank Indonesia menilai kondisi tersebut mencerminkan mulai membaiknya efektivitas pengendalian harga pangan daerah.
Robi mengatakan inflasi di PPU terutama dipicu terbatasnya pasokan beberapa komoditas pangan akibat cuaca dan distribusi. “Terbatasnya pasokan dan stok sejumlah komoditas bumbu-bumbuan serta minyak goreng kemasan masih memengaruhi inflasi PPU, meskipun tekanannya sudah menurun dibanding bulan sebelumnya,” katanya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,13 persen. Lima komoditas utama penyumbang inflasi adalah tomat, semangka, bakso siap santap, bawang merah, dan minyak goreng.
Cuaca hujan dengan intensitas tinggi di wilayah PPU dan daerah pemasok membuat produksi tomat, bawang merah, dan semangka terganggu. Akibatnya, pasokan berkurang dan harga di tingkat konsumen meningkat.
"Kenaikan harga bakso siap santap juga dipengaruhi meningkatnya harga daging sapi menjelang Hari Raya Idul Adha. Sementara itu, minyak goreng mengalami kenaikan akibat keterlambatan pengiriman dari produsen di Pulau Jawa," bebernya.
Di tengah tekanan inflasi tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga cukup dalam. Daging ayam ras, cabai rawit, ikan tongkol, terong, dan kacang panjang menjadi komoditas penyumbang deflasi terbesar di PPU.
Baca Juga: Usai Lebaran, Harga Cabai dan Ayam Turun, Inflasi Balikpapan Mulai Melandai
Meningkatnya hasil panen dan membaiknya tangkapan nelayan disebut menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas tersebut. "Permintaan masyarakat yang mulai normal pasca Idul Fitri juga membantu menahan kenaikan harga lebih lanjut," tuturnya.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui operasi pasar, distribusi pangan murah, koordinasi distribusi ikan laut, hingga penguatan kerja sama antardaerah untuk pasokan minyak goreng MinyaKita. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo