KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penjualan sapi kurban di Samarinda belum menunjukkan lonjakan signifikan meski Iduladha tinggal sekitar 10 hari lagi. Kondisi tersebut dirasakan sejumlah pedagang sapi, termasuk Suhartaty, pemilik Sapi Sutha di Jalan M Yamin, Samarinda.
Menurutnya, tren penjualan tahun ini cenderung lebih lambat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Biasanya, memasuki H-2 pekan Iduladha, pembelian dari masjid hingga kelompok arisan kurban mulai ramai.
“Kalau dari tahun kemarin dibandingkan dengan tahun ini masih dingin ya kita nyebutnya. Mungkin karena inflasi kah atau pengaruh rupiah melemah, ekonomi lagi turun sepertinya,” ujarnya.
Dia menuturkan, pada tahun-tahun sebelumnya sejumlah masjid sudah mulai membeli dalam jumlah besar sejak awal. Bahkan satu masjid bisa membeli hingga 13 ekor sapi. “Biasanya H-2 minggu ini sudah mulai banyak. Pengiriman juga sudah ke mana-mana. Sekarang masih lesu,” kata perempuan yang dipanggil Taty itu.
Baca Juga: Penjual Sapi di Samarinda Tawarkan Layanan Kurban Praktis, Daging Bisa Langsung Dibagikan
Meski begitu, dia tetap optimistis penjualan akan meningkat mendekati hari raya. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, lonjakan pembeli biasanya mulai terlihat sekitar H-7 Iduladha. “Kalau saya sih mungkin minggu depan sudah mulai ramai. Semoga saja," sebut perempuan yang bergelut di usaha tersebut sejak 2018.
Saat ini transaksi harian masih berkisar 5-10 ekor sapi. Namun saat puncak penjualan, angka itu bisa meningkat hingga lebih dari 20 ekor per hari. “Kalau lagi ramai-ramainya bisa lebih dari 20 ekor dalam sehari,” ucapnya.
Di tengah kondisi pasar yang belum terlalu bergairah, stok sapi kurban di Samarinda justru meningkat. Taty menyebut total sapi yang masuk melalui Pelabuhan Samarinda untuk kebutuhan Iduladha tahun ini diperkirakan mencapai puluhan ribu ekor.
Baca Juga: Kubar Target Cetak 369 Hektare Sawah Baru, Dongkrak Ketahanan Pangan Lokal
“Kalau dihitung dari bulan kemarin bisa sampai 20 ribuan. Itu gabungan semua pengusaha sapi asal Samarinda. Ada sekitar berapa ya, enggak sampai 10 orang pengusahanya. Kalau saya sendiri ratusan ekor saja, enggak sampai seribu,” jelasnya.
Mayoritas sapi didatangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Palu, dan Bone. Jenis sapi Bali masih menjadi favorit masyarakat karena harga yang lebih terjangkau. Harga sapi di kandangnya dibuka mulai Rp14 juta dengan berat sekitar 180 kilogram.
Namun tahun ini harga mengalami kenaikan dibanding tahun lalu akibat naiknya biaya transportasi dan BBM. “Tahun kemarin kami masih bisa jual Rp12 juta, sekarang jadi Rp14 juta untuk ukuran yang sama,” ungkapnya.
Kebanyakan yang dipilih adalah sapi ukuran sedang dengan bobot mulai 220 kilogram, dibanderol dengan harga sekitar Rp20 juta. “Karena kebanyakan itu kan semacam arisan, per orang Rp3 juta dengan 7 orang. Jadi cari yang harga Rp20 jutaan. Tapi semua ada pasarnya, mulai yang terjangkau sampai bobot hampir 1 ton,” paparnya.
Pengambilan sapi dari daerah Sulawesi disebutkan Taty lebih efektif dari segi kesejahteraan hewan. Transportasi yang digunakan hanya memakan waktu satu malam. Beda dengan NTT, dimana sapi bisa lima malam di laut. "Jadi risiko sapi sakit atau stress itu berkurang," imbuhnya.
Selain sapi reguler, kandangnya juga menyediakan sapi jumbo hingga berbobot satu ton. Bahkan tahun ini, salah satu sapi di kandangnya dipilih menjadi sapi kurban Presiden RI untuk Samarinda. “Alhamdulillah, tahun ini sapi Presiden untuk Samarinda ngambilnya di Sutha,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo