
KALTIMPOST.ID-Industri pengolahan tetap menjadi penyumbang terbesar ekspor Balikpapan pada Maret 2026. Namun sektor ini belum mampu lepas dari tekanan perlambatan perdagangan global.
Dimana nilai ekspor hasil industri pengolahan pada Maret 2026 mencapai USD 161,84 juta. Nilai tersebut turun 36,49 persen dibanding Februari 2026 yang mencapai USD 254,81 juta.
Secara tahunan, penurunan sektor industri pengolahan bahkan mencapai 37,61 persen dibanding Maret tahun lalu yang sebesar USD 259,38 juta.
Mengenai itu, Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menyebut perlambatan sektor industri pengolahan menjadi faktor besar yang memengaruhi penurunan total ekspor kota.
“Hasil industri pengolahan masih mendominasi ekspor Balikpapan, namun pada Maret mengalami penurunan cukup signifikan baik secara bulanan maupun tahunan,” ucapnya.
Meski mengalami kontraksi, sektor industri pengolahan masih memberi kontribusi terbesar terhadap ekspor Balikpapan dengan porsi mencapai 41,86 persen dari total ekspor Maret 2026.
Selain industri pengolahan, sektor hasil pertambangan juga masih memberikan kontribusi besar. Nilai ekspor hasil pertambangan pada Maret 2026 tercatat sebesar USD 176,07 juta atau sekitar 43,30 persen dari total ekspor.
“Namun sektor pertambangan juga mengalami penurunan 9,02 persen dibanding Februari 2026 dan turun 22,35 persen dibanding Maret 2025,” tuturnya.
Menurut Marinda, kondisi ini mencerminkan permintaan pasar internasional terhadap komoditas utama ekspor Balikpapan sedang melambat.
“Penurunan terjadi di beberapa kelompok komoditas utama sehingga memengaruhi keseluruhan kinerja ekspor daerah,” ujarnya.
Sementara itu, sektor hasil pertanian menjadi satu-satunya sektor yang secara kumulatif justru mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Pada periode Januari-Maret 2026, ekspor hasil pertanian tumbuh 166 persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski nilainya masih relatif kecil yakni 1,25 juta dolar, pertumbuhan tersebut dinilai menjadi sinyal positif diversifikasi ekspor daerah. “Balikpapan perlu memperkuat hilirisasi industri agar tidak terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah dan migas,” ucapnya.
Dengan penguatan sektor pengolahan, nilai tambah ekspor dinilai dapat meningkat sekaligus membuat ekonomi daerah lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas global. (rd)
Editor : Romdani.