KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perkembangan artificial intelligence (AI) dan perubahan pola bisnis marketplace mulai mengubah lanskap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kaltim. Sehingga butuh banyak dukungan agar mereka bisa bertahan dan terus berkembang.
Persaingan digital kini tidak lagi sekadar soal kualitas produk, tetapi juga kemampuan membaca algoritma, mengelola konten, hingga memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menilai transformasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pelaku UMKM daerah. Menurutnya, banyak pelaku usaha masih tertinggal dalam penguasaan pemasaran digital dan pemanfaatan teknologi berbasis data.
“Persaingan di platform digital saat ini semakin ketat termasuk penggunaan algoritma untuk mendukung penjualan, sementara dinamika kebijakan dan model bisnis marketplace juga menjadi tantangan tersendiri yang dapat meningkatkan biaya usaha dan menekan margin UMKM,” jelas Robi, Selasa (26/5).
Baca Juga: Berebut Kursi Ketua Demokrat Kaltim, Kandidat Wajib Kantongi 20 Persen Dukungan DPC
Fenomena tersebut mulai terasa di sektor makanan olahan, fesyen, hingga kerajinan lokal yang selama ini bergantung pada penjualan daring. Banyak UMKM kesulitan menjaga visibilitas produk karena perubahan sistem rekomendasi marketplace yang kini semakin mengandalkan optimasi iklan dan interaksi digital.
Di sisi lain, kemunculan AI dalam sistem penjualan turut mengubah pola kompetisi. Teknologi kini digunakan untuk membaca tren konsumen, menentukan waktu promosi terbaik, hingga membuat konten pemasaran otomatis. Namun mayoritas UMKM daerah masih belum memiliki akses maupun pemahaman terhadap teknologi tersebut.
Kondisi ini membuat Bank Indonesia Balikpapan meluncurkan Program Onboarding DIGDAYA UMKM 2026 sebagai upaya mempercepat transformasi digital pelaku usaha lokal. Program tersebut tidak hanya memberikan pelatihan dasar digitalisasi, tetapi juga membangun kemampuan UMKM agar mampu bertahan dalam kompetisi digital jangka panjang.
Baca Juga: Kasasi Ditolak MA, Kuasa Hukum Terdakwa Buka Peluang Ajukan PK
Robi menjelaskan, penguatan kapasitas digital menjadi kebutuhan mendesak karena pola konsumsi masyarakat pascapandemi mengalami perubahan besar menuju transaksi digital. “Penguatan kapasitas digital menjadi penting agar usaha UMKM memiliki kemampuan beradaptasi dan tumbuh secara berkelanjutan melalui diversifikasi kanal, penguatan branding, peningkatan efisiensi usaha, serta perluasan akses pasar,” katanya.
Program DIGDAYA 2026 sendiri diikuti 44 UMKM terpilih dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Mereka dipilih dari 160 peserta yang mengikuti tahapan seleksi dan kurasi.
Menariknya, materi pelatihan tidak lagi sebatas cara membuka toko online. Peserta dibekali strategi live selling, optimalisasi media sosial, program afiliasi, pemanfaatan AI dalam bisnis, hingga penguatan legalitas usaha. Pendekatan ini menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM kini bergerak menuju tahap yang lebih kompleks dan profesional.
"Bank Indonesia melihat transformasi ini penting untuk menjaga daya tahan ekonomi daerah. Ketika sektor industri besar menghadapi ketidakpastian global, UMKM digital dinilai mampu menjadi bantalan ekonomi baru yang lebih fleksibel dan adaptif," ucapnya.
Dalam jangka panjang, BI Balikpapan berharap lahir UMKM yang tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga memiliki kapasitas ekspor dan daya saing nasional melalui penguasaan teknologi digital. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo