KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur menunjukkan perbaikan pada penghujung 2025. Meski masih berada di zona kontraksi, tekanan yang dialami sektor UMKM mulai berkurang dibandingkan periode sebelumnya.
Seperti dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Jajang Hermawan, bahwa pertumbuhan kredit UMKM Kaltim pada triwulan IV 2025 tercatat minus 0,48 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 0,54 persen.
Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya penyaluran kredit investasi. “Perbaikan penyaluran kredit UMKM Kaltim bersumber dari kinerja kredit investasi yang tumbuh sebesar 2,31 persen (yoy) dari 0,78 persen (yoy),” ujarnya.
Menurut Jajang, perkembangan tersebut mengindikasikan pelaku UMKM masih melakukan ekspansi usaha di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode perayaan akhir tahun.
Baca Juga: Momen Hari Lahir Pancasila, DPRD Balikpapan Dorong Perda Khusus Persatuan Umat
Di saat yang sama, kondisi kredit UMKM di Kaltim juga relatif lebih baik dibandingkan tren nasional. Secara nasional, kredit UMKM pada triwulan IV 2025 turut mengalami kontraksi 0,27 persen (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya masih mencatat pertumbuhan positif.
Dari sisi risiko, kualitas kredit UMKM masih berada dalam kategori aman. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) UMKM Kaltim tercatat 3,38 persen pada triwulan IV 2025. Meskipun sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, angka tersebut masih berada di bawah ambang batas 5 persen yang lazim digunakan sebagai indikator kesehatan kredit.
Jajang menjelaskan, kualitas kredit investasi UMKM tercatat lebih baik dibandingkan kredit modal kerja. Hal itu terlihat dari rasio NPL kredit investasi yang lebih rendah.
Baca Juga: Ekonomi Global Memanas, AS Bom Iran, Harga Minyak Dunia Melejit di Atas 3 Persen
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa kredit UMKM yang diarahkan untuk tujuan produktif jangka panjang cenderung memiliki risiko lebih terkendali, sementara kredit modal kerja masih menghadapi tekanan khususnya akibat terbatasnya permintaan,” jelasnya.
Secara nominal, total kredit UMKM yang tersalurkan di Bumi Etam hingga triwulan IV 2025 mencapai Rp32,71 triliun. Dengan perbaikan yang mulai terlihat pada kredit investasi dan risiko kredit yang tetap terjaga, sektor UMKM dinilai masih memiliki peluang untuk memperkuat ekspansi usahanya pada periode mendatang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo