Data Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) mencapai 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang hanya 0,43 persen.
"Kenaikan harga terjadi pada seluruh segmen rumah. Rumah tipe besar menjadi kelompok dengan kenaikan harga tertinggi mencapai 2,93 persen. Disusul rumah tipe kecil sebesar 1,85 persen dan rumah tipe menengah sebesar 0,38 persen," ucap KPw BI Balikpapan Robi Ariadi, Senin (1/6).
Namun di balik kenaikan harga tersebut, volume penjualan justru mengalami kontraksi yang cukup dalam. Sepanjang triwulan I 2026, hanya 72 unit rumah baru yang berhasil terjual. Jumlah ini merosot 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 162 unit.
Robi menjelaskan bahwa kenaikan harga rumah dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pembangunan yang harus ditanggung pengembang. "Kenaikan harga rumah terutama dipengaruhi penyesuaian harga oleh pengembang untuk mengakomodasi kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja," ujarnya.
Penurunan penjualan paling dalam terjadi pada rumah tipe kecil. Jika pada triwulan I 2025 tercatat 109 unit terjual, kini hanya tersisa 36 unit atau turun hampir 67 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan daya beli masyarakat terhadap sektor properti masih menghadapi tekanan. Selain kenaikan harga, momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri membuat sebagian besar rumah tangga lebih memprioritaskan kebutuhan konsumsi dibandingkan investasi hunian.
"Kondisi tersebut mencerminkan adanya pergeseran perilaku konsumen. Rumah masih menjadi kebutuhan penting, tetapi keputusan pembelian semakin dipengaruhi oleh faktor harga dan kondisi keuangan keluarga," tuturnya.
Meski demikian, pelaku usaha properti tetap optimistis terhadap prospek pasar Balikpapan. Kehadiran proyek industri strategis, operasional Kilang Pertamina Balikpapan, serta pembangunan IKN diyakini akan menjadi sumber permintaan baru dalam jangka menengah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo