KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sebuah bisnis yang sukses sering kali lahir dari cerita tak terduga. Bisa jadi dari ruang emosional yang mendalam dan pertemuan momentum yang pas. Bagi Munawaroh, kecintaannya terhadap bunga bukanlah sekadar hobi musiman untuk mempercantik sudut ruangan.
Ada cerita personal yang menyentuh hati di balik keputusannya menggeluti dunia flora. Saban satu atau dua minggu sekali, dia memiliki rutinitas yang tidak pernah dilewatkan, membeli bunga segar untuk ditaruh di makam mendiang buah hatinya.
Aktivitas emosional yang berjalan konstan itu rupanya menumbuhkan ide. Setiap kali memandangi warna-warni kelopak bunga di toko, perempuan yang karib disapa Muna itu merasakan seberkas ketenangan di tengah rasa duka yang mendalam. Dari sanalah inspirasi itu muncul untuk memiliki sebuah tempat usaha mandiri.
"Terus saya terinspirasi, karena melihat bunga tuh kayaknya tenang gitu. Akhirnya kepikiran pengin deh punya usaha bunga, paling enggak saya sendiri yang menikmati," kenang perempuan kelahiran 1986 itu.
Baca Juga: Ekonomi Melambat, Tapi Coffee Shop Tetap Ramai! Mercure dan Ibis Samarinda Siapkan Dua Outlet Baru
Keinginan kian kuat hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil kelas merangkai bunga secara privat dan mengikuti beberapa pelatihan profesional sejak akhir 2024. Namun, sebuah mimpi besar kerap membutuhkan rekan perjalanan yang tepat untuk bisa terealisasi.
Di sinilah takdir mempertemukannya dengan Erry Nuranisah. Uniknya, meski anak-anak mereka berada di satu kelas yang sama di sebuah sekolah di Samarinda, keduanya justru jarang bertegur sapa saat rutinitas mengantar anak.
Momentum kedekatan mereka baru benar-benar terbangun lewat jalur spiritual. Keduanya aktif dalam kegiatan rutin pengajian orang tua murid yang digelar pihak sekolah. Pertemuan yang awalnya sekadar berpapasan, lambat laun menjadi obrolan intens di sela-sela jadwal mengaji sejak setahun lalu. Pada pertengahan 2025, Muna akhirnya memberanikan diri menceritakan impian terpendamnya kepada Erry.
Baca Juga: Saat Banyak Bisnis Menahan Diri, 28 Coffee Justru Tambah Outlet Baru dan Buka Lapangan Kerja
Awalnya, Muna ingin membuka toko bunga hidup. Namun, Erry memberikan analisis risiko. Sebagai pemula di dunia bisnis, bunga segar dinilai memiliki risiko kerugian yang tinggi jika perputaran pasarnya tidak cepat, karena barang akan cepat layu dan membusuk jika tidak langsung laku.
"Waktu sempat ngobrol, dia (Erry) bilang kalau bunga segar itu risikonya tinggi dan enggak mungkin order sedikit. Terus saya tanya, kamu pernah lihat enggak sih bunga-bunga kawat bulu? Dia bilang pernah lihat dan pengin coba juga. Ya sudah, kami coba bikin dan jalan trial dulu. Akhirnya semua mengalir aja," beber Muna.
Tanpa buang waktu lama, obrolan santai yang biasanya hanya menjadi wacana di kalangan pertemanan itu langsung mereka eksekusi. Mulai belajar merangkai bersama secara autodidak melalui tutorial video.
Hanya butuh satu bulan sejak obrolan serius pertama mereka, komitmen itu langsung menjelma menjadi aksi nyata. Tepat pada 20 Juli 2025, mereka resmi meluncurkan usaha bersama dengan konsep mini studio bernama Love Flower.
Lokasinya memanfaatkan sebagian ruang dari bisnis laundry milik Muna yang terletak persis di sebelah studio baru mereka. Keputusan menentukan tanggal pembukaan yang cepat ini sengaja diambil agar mereka memiliki target kerja yang jelas. Erry menegaskan bahwa latar belakang mereka sebagai pekerja kantoran di masa lalu sangat membantu dalam membentuk kedisiplinan bisnis baru ini.
"Kami ini basic-nya dulu karyawan, pekerja. Jadi semua urusan seperti administrasi itu kami sudah ada dan langsung dibagi tugasnya. Kami juga sengaja langsung bilang harus opening tanggal 20 Juli itu, karena kalau enggak ada opening begitu, kami enggak akan punya deadline untuk bergerak maju," tutup Erry. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo