KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tidak banyak tempat makan yang mampu bertahan lebih dari satu dekade sambil tetap menjaga pelanggan lamanya tetap datang. Namun di sudut Kampung Timur, Balikpapan Utara, Linda justru membuktikan hal itu lewat langkah sederhana: tidak melupakan rasa dan suasana rumahan.
Pagi di All Tiam biasanya dimulai sejak matahari belum terlalu tinggi. Kursi-kursi mulai terisi, suara sendok beradu dengan gelas kopi terdengar bersahutan, sementara aroma roti panggang keluar dari area dapur terbuka.
Di tengah aktivitas itu, Linda memilih tifak hanya berdiri mengawasi semuanya, tapi ikut pula melayani seperti seorang ibu yang memastikan tamunya merasa nyaman.
Perempuan kelahiran 10 Oktober 1973 itu tidak pernah membayangkan usaha kecil yang dibangun bersama keluarganya sejak 2015 kini berkembang menjadi salah satu tempat sarapan yang cukup dikenal di Balikpapan Utara.
Dulu, tempat itu hadir dengan nama lama yang sudah akrab di telinga pelanggan. Namun dua bulan terakhir, ia dan putranya, Ridwan Wijaya, sepakat memulai babak baru dengan nama All Tiam.
Pergantian nama itu bukan karena bisnis mereka ingin meninggalkan masa lalu. Justru sebaliknya, mereka ingin mempertahankan identitas lama sambil memberi ruang bagi mimpi baru generasi berikutnya. “Ridwan memang ingin punya brand sendiri,” ucap Linda sambil tersenyum.
Ridwan menjadi sosok yang paling sibuk memikirkan nama baru tersebut. Selama sekitar dua minggu, berbagai ide dicari sampai akhirnya kata “All Tiam” dipilih.
Bagi mereka, kata “tiam” terlalu dekat dengan dunia kedai kopi untuk ditinggalkan begitu saja. Dalam budaya Hokkian dan Hakka, “tiam” dikenal sebagai sebutan untuk kedai atau tempat usaha makan minum.
Baca Juga: Intip Menu Rekomendasi Tiga Toean: Mie Tek-Tek Medok hingga Tahu Telur Asin Aroma Daun Kari
Sedangkan kata “all” dipilih untuk menggambarkan konsep tempat yang menyediakan banyak pilihan menu dalam satu lokasi. “Tidak mau menghilangkan kesan kedainya. Karena orang sudah identik kalau tiam itu tempat makan dan kopi,” kata Linda.
Meski tampil dengan identitas baru, banyak hal di All Tiam tetap dipertahankan. Roti telur, soto Banjar, rawon, hingga roti bakar masih menjadi menu yang dicari pelanggan lama.
Namun sang anak, Ridwan juga mulai membawa sentuhan baru yang lebih modern. Kopi latte kini menjadi salah satu menu paling ramai dipesan. Minuman itu dijual mulai Rp 29 ribu untuk ukuran mini hingga Rp 110 ribu untuk kemasan satu liter.
Selain itu, etalase roti berbahan kaca bening yang ditempatkan dekat pintu masuk juga menjadi daya tarik tersendiri.
Display roti tersebut membuat suasana All Tiam terasa seperti perpaduan antara bakery modern dan warung kopi keluarga. Linda mengaku dirinya tidak terlalu banyak ikut campur soal konsep baru yang dibawa anaknya. “Mamanya ngikut aja,” katanya sambil tertawa kecil.
Baginya, yang terpenting adalah usaha keluarga itu terus berjalan dan berkembang lebih besar dari sebelumnya. Kini All Tiam memiliki 13 karyawan dan beroperasi sejak pukul 07.00 hingga 16.00 Wita. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo