KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Di tengah meningkatnya biaya bahan baku, kenaikan pajak, dan tekanan operasional yang terus bertambah, banyak pelaku usaha memilih jalur efisiensi agresif untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan.
Pengurangan tenaga kerja, pembatasan operasional, hingga penundaan ekspansi menjadi langkah yang lazim ditemui di berbagai sektor usaha.
Namun strategi berbeda diterapkan jaringan restoran JJ Steak. Alih-alih memangkas jumlah pekerja untuk menjaga profitabilitas, perusahaan justru memilih mempertahankan seluruh karyawan meskipun harus menghadapi penyusutan margin keuntungan. Fenomena ini menjadi menarik dalam perspektif ekonomi.
"Di saat banyak perusahaan fokus menjaga angka keuntungan, sebagian pelaku usaha mulai memandang tenaga kerja sebagai aset jangka panjang yang harus dipertahankan, bahkan ketika kondisi bisnis sedang tidak ideal, kata Owner JJ Steak, Wendy Tio.
Wendy mengakui bahwa tekanan biaya saat ini dirasakan hampir di seluruh lini usaha. Mulai dari kenaikan harga bahan baku makanan, biaya distribusi, hingga berbagai penyesuaian kebijakan fiskal yang berdampak langsung terhadap operasional perusahaan.
“Sebagai pelaku usaha, mau tidak mau kami harus melakukan efisiensi di berbagai lini dan aspek. Tetapi efisiensi itu tidak kami lakukan dengan mengurangi kualitas yang sudah ada,” ujar Wendy.
Menurutnya, ruang keuntungan bisnis kuliner saat ini semakin tipis. Kenaikan biaya tidak selalu dapat dibebankan sepenuhnya kepada konsumen karena pelaku usaha juga harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut menciptakan dilema tersendiri bagi industri makanan dan minuman. Di satu sisi biaya terus meningkat, sementara di sisi lain harga jual tidak dapat dinaikkan secara agresif karena berpotensi menurunkan jumlah pelanggan.
Baca Juga: Akselerasi Menuju Fase Operasi, RUPS 2025 KPB Tetapkan Arah Strategis RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe
Dalam situasi seperti itu, perusahaan dituntut mencari sumber efisiensi baru yang tidak berdampak terhadap kualitas layanan maupun jumlah tenaga kerja.
“Di sisi lain, kami tidak akan melakukan PHK. Kami akan tetap bertahan meskipun margin usaha tergerus oleh berbagai faktor, mulai dari bahan baku hingga peningkatan pajak. Semua aturan tetap kami taati dan kami jalankan,” ucapnya.
Keputusan mempertahankan tenaga kerja menjadi langkah yang cukup berani. Sebab dalam struktur biaya restoran, komponen sumber daya manusia merupakan salah satu pengeluaran terbesar selain bahan baku.
Namun Wendy menilai bahwa mempertahankan karyawan justru menjadi investasi penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Pengalaman, keterampilan, dan loyalitas pekerja dianggap lebih bernilai dibandingkan penghematan jangka pendek yang diperoleh dari pemutusan hubungan kerja.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha tidak selalu harus dibangun melalui pengurangan kapasitas bisnis.
Baca Juga: Timnas Iran Sebut Diperlakukan bak Korban Penindasan di Piala Dunia 2026
Sebaliknya, perusahaan dapat bertahan melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi proses kerja, serta penguatan kualitas layanan kepada pelanggan.
"Menjaga kualitas produk dan mempertahankan tenaga kerja menjadi dua fondasi utama untuk menghadapi tantangan ekonomi yang diperkirakan masih berlanjut sepanjang tahun ini," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo