KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan pemulihan setelah beberapa waktu tertekan oleh gejolak pasar global. Bank Indonesia (BI) menilai penguatan tersebut tidak lepas dari koordinasi intensif antara otoritas moneter dan pemerintah.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan apresiasi kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa atas kolaborasi yang dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, kerja sama yang semakin solid memberikan dampak positif terhadap pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga: Siswi SMAN 6 Jakarta Tewas dalam Kecelakaan Tragis, Motor yang Ditumpanginya Diduga Tersangkut Kabel
Beberapa waktu lalu, rupiah sempat terpuruk hingga menyentuh kisaran Rp18.200 per dolar Amerika Serikat. Tekanan berasal dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta tingginya kebutuhan devisa sektor korporasi.
Namun kondisi mulai berubah setelah pemerintah dan BI memperkuat koordinasi kebijakan. Hingga 17 Juni 2026, kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.730 per dolar AS atau menguat sekitar 0,76 persen dibanding posisi akhir Mei.
Untuk menjaga momentum tersebut, BI memperbesar intervensi di pasar valuta asing. Langkah dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri guna meredam gejolak nilai tukar.
Selain itu, bank sentral juga mempertahankan daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan menjaga struktur imbal hasil pada berbagai tenor. Kebijakan ini diharapkan mampu menarik arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat fondasi rupiah ke depan.
Baca Juga: BGN Hentikan MBG Selama Liburan! Ribuan SPPG Tidak Lagi Dapat Dana Operasional, Hemat Rp3 Triliun
Perry optimistis tren penguatan masih berlanjut seiring membaiknya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia.
Editor : Uways Alqadrie