KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah tekanan ekonomi global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan pada 2026. Kuatnya konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang utama ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
“Pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat dari 5,39 persen (yoy) pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61 persen (yoy) pada triwulan I 2026, terutama didukung oleh permintaan domestik yang tetap solid, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan juga masih terjaga. Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen enam bulan mendatang yang berada pada level optimistis sebesar 129,60 pada April 2026.
Meski demikian, pihaknya mengingatkan bahwa ketidakpastian global masih berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Risiko tersebut antara lain berasal dari perlambatan ekonomi dunia, tekanan terhadap ekspor, serta meningkatnya volatilitas aliran modal dan nilai tukar.
Selain itu, aktivitas sektor manufaktur juga perlu mendapat perhatian. Pada April 2026, Prompt Manufacturing Index (PMI) berada di level 49,10 atau sedikit di bawah zona ekspansi akibat moderasi pesanan baru, meskipun pesanan ekspor masih tumbuh.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia akan terus diperkuat. Dukungan diarahkan pada pembiayaan ekonomi, optimalisasi belanja pemerintah, percepatan digitalisasi sistem pembayaran, penguatan hilirisasi, hingga ketahanan pangan.
“Ke depan, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang tetap berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan (pro-growth) diharapkan dapat menjaga stabilitas sekaligus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi,” jelas Jajang.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,90 hingga 5,70 persen (yoy). (*)
Editor : Ismet Rifani