KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Titi (30) punya kebiasaan memungut sampah saat nongkrong bersama teman-temannya di pinggir Sungai Mahakam. Kebiasaan itu bermula dari hal sederhana. Spot tongkrongan yang biasa ia kunjungi, didapatinya dipenuhi sampah berserakan.
Tidak ada perintah dari siapa pun. Titi hanya merasa terganggu dengan tumpukan sampah yang terus bertambah di tempat yang sama setiap kali ia datang. "Gerakan sederhana ini ternyata punya dampak besar kepada lingkungan," kata millenial yang punya nama lengkap Mangir Anggoro Titiantoro itu, kepada Kaltim Post, Jumat (26/6).
Dari kebiasaan kecil itu, sesuatu berubah. Beberapa orang di sekitarnya ikut tergerak. Mereka membentuk kelompok kecil yang rutin membersihkan area tersebut. Apa yang dimulai sebagai keresahan pribadi, kini menjadi gerakan yang melibatkan lebih banyak tangan.
Bagi Titi, isu sampah tidak bisa dipisahkan dari isu energi bersih, meski keduanya sering dibicarakan secara terpisah. Ia mencontohkan plastik, bahan yang membutuhkan puluhan tahun untuk terurai di tanah. Pemilahan sampah organik dan non organik jadi kebiasaan yang ia jaga, agar yang bisa terurai secara alami tidak ikut menumpuk di tempat pembuangan.
Ia menilai kesadaran semacam ini penting dihubungkan dengan kehidupan sehari hari. "Semakin tahun kualitas udara dan air yang selalu kita konsumsi semakin tercemar," katanya. Jika tidak dimulai dari sekarang, dampaknya akan dirasakan generasi setelahnya, anak dan cucu kita sendiri. "Tidak ada kata terlambat untuk memulai," tambahnya.
Namun di tengah optimisme itu, Titi menyimpan kegelisahan yang lebih besar. Ia menilai perubahan gaya hidup individu tidak akan cukup tanpa dukungan dari atas. "Yang punya peran besar di sini adalah pemerintah itu sendiri," tegasnya.
"Sudah banyak sekali secara individu maupun kelompok yang peduli akan perubahan ini, tetapi masih minim akan support dari pemerintah," tambahnya. Ia mengambil satu contoh, yaitu ketika Pemkot Samarinda menghentikan penyediaan kantong plastik gratis di minimarket. "Dari satu kebijakan ini saja, punya efek besar terhadap lingkungan," katanya.
"Gimana jika ada kebijakan lainnya yang didukung secara sistem dan lintas sektoral, aku yakin pasti kita tidak akan mengeluhkan permasalahan yang itu itu saja," ucap Titi. Soal mengajak lebih banyak orang peduli tanpa membuat mereka merasa terbebani, Titi punya pandangan sederhana. Ia percaya gerakan bisa menyebar luas lewat cara yang santai dan tanpa beban.
"Jika kita bergerak secara enjoy, tentunya orang lain pasti akan tergerak dan terinfluence apa yang kamu lakukan," tuturnya. Keresahan Titi soal minimnya dukungan pemerintah, rupanya tidak sepenuhnya tanpa jawaban. Data Pemprov Kaltim menyebut Samarinda sebagai kota penghasil sampah terbesar di provinsi itu, dengan timbulan mencapai 607,95 ton per hari.
Dari total 850 ribu ton sampah Kaltim per tahun, 19,3 persennya merupakan sampah plastik, naik dari tren sebelumnya yang berada di angka 16 persen. Selama ini, sebagian besar sampah itu hanya selesai di tempat pembuangan akhir.
Arahnya kini mulai bergeser. Berbekal Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, otoritas setempat menandatangani kerja sama pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk kawasan Samarinda Raya pada 10 April 2026.
Kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 710 ton sampah per hari. Proyek ini masih dalam tahap peninjauan lapangan, dengan operasi penuh ditargetkan berjalan dalam satu hingga tiga tahun mendatang.
Sampah yang dipungut Titi dan kelompoknya di pinggir Sungai Mahakam, jika sistem ini berjalan sesuai rencana, bisa saja menjadi bagian kecil dari rantai pasokan menuju proyek tersebut. Bukan lagi berakhir sia-sia di tempat pembuangan, tapi punya jalan baru sebagai bagian dari listrik yang akan dipakai kota ini. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo